Judul KTI

Ads 468x60px

30 Desember, 2009

10 Penyakit dengan Biaya Pengobatan Termahal


Washington, Tiap tahunnya biaya pengobatan hampir semua penyakit semakin meningkat. Tapi diantara semua jenis penyakit itu ada yang biayanya amat mahal. Hindari 10 penyakit ini jika tidak ingin jatuh miskin.

Seperti dikutip dari Forbes, Rabu (16/12/2009), ada 10 penyakit dengan biaya termahal di Amerika Serikat.

1. Penyakit mental
Peningkatan biaya per tahun 6 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 142,2 miliar. Penyakit mental diantaranya yaitu Alzheimer, Parkinson, Schizoprenia, depresi dan lainnya. Perkembangan obat terkini dan proses penyembuhan yang lama membuat penyakit ini menjadi penyakit dengan biaya pengobatan termahal diantara semua penyakit yang ada.

2. Penyakit jantung
Peningkatan biaya per tahun 5 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 123,1 miliar. Penyakit jantung masih menjadi penyakit pembunuh nomor 1 di dunia. Hal ini disebabkan semakin banyak orang yang merokok dan meningkatnya pola hidup tidak sehat seperti makanan berkolesterol tinggi dan jarangnya olahraga.

3. Trauma
Peningkatan biaya per tahun 6 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 100,2 miliar. Biaya pengobatan orang yang terkena trauma terus meningkat karena tiap kasus berbeda-beda cara pengobatannya. Selain itu alat-alat untuk mendiagnosis penyakit ini seperti Computed tomography scans cukup mahal harganya.

4. Kanker
Peningkatan biaya per tahun 7 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 99,4 miliar. Kanker dengan biaya pengobatan termahal adalah kanker usus besar, kanker payudara, kanker paru-paru dan kanker prostat. Kunci dari menghindari penyakit ini adalah dengan menghindari merokok dan menjaga asupan makanan yang sehat.

5. Penyakit paru-paru
Peningkatan biaya per tahun 6 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 64,6 miliar. Yang termasuk penyakit paru-paru diantaranya asma, emphysema (pembengkakan atau radang paru-paru) dan penyakit Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) lainnya.

6. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
Peningkatan biaya per tahun 9 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 50,2 miliar. Penyakit ini membutuhkan biaya yang cukup besar karena banyak dokter yang memberi obat dalam jumlah yang tak tanggung-tanggung pada pasiennya. Kualitas obat juga menentukan harganya. Jika saja obat hipertensi dibuat generiknya mungkin biaya penyakit ini bisa ditekan.

7. Osteoarthritis (radang sendi/rematik)
Peningkatan biaya per tahun 8 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 48 miliar. Obesitas dan ukuran pinggang yang membesar adalah faktor yang memperbesar risiko penyakit ini. Obat-obatan mahal seperti Vioxx dan Celebrex yang muncul pada awal tahun 2000 menambah mahal biaya penyembuhan penyakit radang sendi ini. Pada tahun 2004, Vioxx ditarik dari pasaran karena memicu risiko serangan jantung.

8. Sakit punggung
Peningkatan biaya per tahun 9 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 40,1 miliar. Pengeluaran untuk penyakit ini banyak dihabiskan untuk operasi. Ada juga obat-obatan mahal yang bersifat narcotic (membius) untuk mengatasi penyakit ini. Namun sebuah studi yang dimuat dalam Journal of the American Medical Association mengatakan bahwa semua pengobatan mahal itu tidak membuat seseorang lebih baik.

9. Penyakit ginjal
Peningkatan biaya per tahun 13 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 35,9 miliar. Penemuan teknik dialisis untuk penderita penyakit ginjal membuat penanganan penyakit ini mahal. Teknik dialisis adalah teknologi pertama yang sangat mahal dalam menangani penyakit ginjal.

10. Diabetes
Peningkatan biaya per tahun 8 persen. Total ongkos penanganan penyakit ini di Amerika telah mencapai US$ 35,8 triliun. Hampir 24 juta orang Amerika terkena diabetes dan pemicunya tertingginya adalah obesitas. Penyakit diabetes bisa memicu penyakit-penyakit lainnya seperti jantung dan kanker. Namun karena penyakit-penyakit itu sudah berbeda lagi pengobatannya, maka penyakit diabetes sendiri tidak memakan biaya yang lebih tinggi dari penyakit jantung atau kanker.

Sumber : Detik.com




Fakta Mengejutkan Tentang Tubuh Manusia


Mungkin banyak orang yang tidak mengetahui banyak rahasia yang terdapat di dalam tubuhnya. Fakta-fakta ini mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya, tapi seseorang akan terkejut bila mengetahuinya.

Tubuh manusia mulai dari kepala, leher, batang badan, 2 lengan dan 2 kaki merupakan keseluruhan struktur fisik dari organisme manusia. Ukuran tubuh manusia biasanya dipengaruhi oleh gen, dan saat dewasa tubuh terdiri dari 100 miliar sel yang dirancang untuk menunjang fungsi masing-masing organ seperti kardiovaskular, pencernaan, kekebalan tubuh, pernapasan, ekskresi, perkemihan, muskuloskeletal, saraf, endokrin dan reproduksi.

Karena itu ada fakta-fakta tersembunyi yang tidak diketahui banyak orang mengenai tubuh seorang manusia, seperti dikutip dari Howstuffworks, Rabu (30/12/2009):
  1. Manusia melepaskan sekitar 600.000 partikel (sel) kulit setiap jamnya. Dalam setahun ada sekitar 1,5 pon (0,75 kg) sehingga rata-rata orang akan kehilangan sekitar 105 pon (47,25 kg) sel kulit pada saat berusia 70 tahun.
  2. Jumlah tulang. Orang dewasa memiliki tulang yang lebih sedikit dibandingkan bayi. Saat seseorang baru memulai kehidupan, terdapat 305 tulang. Tapi seiring terjadinya pertumbuhan, maka saat dewasa orang hanya memiliki 206 tulang saja.
  3. Sidik (garis-garis) di lidah. Jika ingin menyembunyikan identitas, maka sebaiknya tidak menjulurkan lidah. Karena serupa dengan sidik jari, setiap orang memiliki sidik lidah unik yang berbeda-beda.
  4. Lapisan kulit perut baru. Tanpa disadari setiap manusia memiliki lapisan kulit perut baru setiap 3-4 hari. Ini karena asam yang kuat di lambung tidak hanya berguna untuk mencerna makanan, tapi juga untuk mengikis lapisan perut.
  5. Kecepatan bersin. Udara yang dikeluarkan dari orang yang bersin bisa memiliki kecepatan hingga 100 mil/jam (160,9 km/jam) atau lebih. Karena itu tidak ada salahnya untuk menutup hidung saat bersin atau ada orang di dekat Anda yang bersin.
  6. Panjangnya pembuluh darah. Darah memiliki jalur kerja yang panjang, karena ada sekitar 60.000 mil (96.540 km) pembuluh darah dalam tubuh manusia. Dan jantung bekerja keras untuk memompa sekitar 2.000 galon darah setiap harinya ke semua pembuluh darah.
  7. Jumlah air liur. Mungkin tidak pernah terbayangkan untuk berenang di dalam air liur sendiri. Tapi hal ini mungkin saja, karena dalam seumur hidupnya seseorang menghasilkan air liur rata-rata 25.000 liter.
  8. Kekuatan mendengkur. Seseorang pasti akan terganggu jika tidur di sebelah orang yang mendengkur. Hal ini bisa dimaklumi, karena suara dengkuran bisa mencapai 60 desibel yang setara dengan suara normal orang berbicara. Bahkan ada yang mencapai 80 desibel yaitu setara dengan suara mesin bor.
  9. Warna dan jumlah rambut. Warna rambut akan membantu menentukan seberapa banyak jumlah helai rambut. Warna rambut pirang memiliki 146.000 folikel (kantong kelenjar pada rambut), rambut hitam memiliki 110.000 folikel sedangkan rambut coklat memiliki 100.000 folikel. Setiap folikel menghasilkan 20 helai rambut.
  10. Berat kepala. Tidak heran jika seorang bayi sulit sekali mengangkat kepalanya, karena berat kepala saat baru lahir adalah seperempat dari total berat badan. Sedangkan saat dewasa, berat kepalanya hanya seperdelapan dari berat badan seseorang
Sumber : Detik.com




Trik Jitu Membuat Istri Orgasme


Ini beberapa tips dari Askmen yang dikutip detikhot, yang bisa Anda ikuti.

1. Pakai wewangian yang terkesan maskulin
Jangan sepelekan indera penciuman perempuan. hanya dengan wangi tubuh Anda, seorang perempuan bisa terangsang. Wewangian maskulin hampir sama dengan aroma testosterone alami pria yang dapat membuat libido perempuan meningkat.

2. Hangatkan kakinya
Menghangatkan kaki perempuan yang kedinginan akan membuatnya merasa nyaman. Seringkali hal ini luput dari perhatian Anda para lelaki. Padahal menurut penelitian kehangatan kaki dapat meningkatkan hasrat seks perempuan sebanyak 30 persen dan kemudian membuat mereka orgasme.

3. Bercintalah di waktu yang tepat
Anda harus tahu, di jam-jam tertentu, hasrat seks perempuan tengah tinggi-tingginya. Coba rayu perempuan Anda di jam 10.00 pagi dan 02.00 malam. Rangsang titik-titik erotisnya, dan coba rasakan apa yang akan Anda dapatkan darinya.

4. Ciumlah punggungnya
Jangan terlalu fokus pada bagian depan tubuh pasangan Anda. Menurut penelitian. dengan mencium bagian punggung, perempuan akan merasa sangat terangsang. Jadi jangan lupa sentuh bagian punggung pasangan Anda.

Sumber: detikcom


10 Mitos Penyebab Keguguran


Seks.
''Sebaiknya ibu hamil tidak melakukan hubungan seksual pada 12 minggu pertama kehamilannya'', demikian nasehat banyak dokter kandungan. Padahal sebenarnya belum ada penelitian medis yang membuktikan hubungan seksual menyebabkan keguguran. Jadi sepanjang hal itu tidak menyakitkan dan tidak menimbulkan ketidaknyamanan, silakan saja.

Olahraga.
Latihan olahraga yang teratur dalam porsi cukup selama kehamilan bagus untuk Anda dan bayi. Sama sekali tidak ada resiko keguguran, asalkan Anda tidak terlalu lelah melakukannya. Tetapi sebaiknya jangan memulai jenis olahraga baru yang belum pernah Anda lakukan pada saat sebelum hamil.

Perjalanan udara.
Tidak ada bukti yang menyebutkan bepergian naik pesawat terbang menyebabkan keguguran, entah itu perjalanan singkat maupun panjang.

Pemeriksaan ultrasonografi.
Banyak ibu-ibu takut menjalani pemeriksaan ultrasonografi - termasuk untuk pemeriksaan USG untuk mencek perkembangan janin di dalam rahim -karena pernah mendengar USG dapat menyebabkan keguguran. Sebenarnya pemeriksaan USG tidak terbukti dapat meningkatkan risiko keguguran, meski memang, sejumlah ibu yang menjalani beberapa kali pemeriksaan USG selama kehamilannya ternyata melahirkan bayi-bayi kidal.

Sauna
Sebuah studi tahun 1970-an mengaitkan mandi sauna dengan sejumlah problem kehamilan, risiko terbesarnya adalah keguguran. Tetapi penelitian ini tidak dikonfirmasi lebih lanjut. Namun untuk mencegah janin di dalam kandungan menderita panas berlebih. Mandi sauna sebaiknya dibatasi hanya 10 menit, dan sebaiknya hindari air yang terlalu panas.

Kopi
Penelitian menyebutkan jika ibu hamil minum lebih dari enam gelas kopi, teh, atau cola per hari, makan berisiko tinggi mengalami keguguran. Karena itu pula secara alamiah tubuh seringkali menyortir diri dengan "menolak" kopi pada minggu-minggu pertama kehamilan.

Sinar-X
Satu kali pemeriksaan dengan Sinar-X atau X-Ray selama kehamilan tidak akan menyebabkan keguguran, menimbulkan masalah pada kehamilan, atau berbahaya bagi janin. Meski demikian, dokter biasanya sangat berhati-hati dalam penggunaan X-ray pada ibu hamil, dan tidak pernah merekomendasi suatu seri terapi X-Ray pada ibu hamil sebelum usia kehamilannya 8 minggu.

Menggunakan Komputer
Jika ibu bekerja dengan komputer, tidak perlu khawatir radiasi layar monitor menyebabkan keguguran. Studi yang dilakukan secara intensif dan detail telah menunjukan memang tidak ada hubungan antara penggunaan komputer dengan keguguran atau problem persalinan lainnya, meski Anda sepanjang hari mengetik di keyboard sekali pun.

Penggunaan Microwave dan Oven
Baru-baru ini ada laporan di media massa yang menyebutkan radiasi microwave berpeluang mencetus problem kehamilan, namun laporan ini tidak didukung penelitian ilmiah. Hal ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa belum ada penelitian terhadap benda elektronika sejenis di sekitar ibu hamil yang radiasinya menyebabkan keguguran.

Cabut Gigi
Jika Anda memiliki tambalan dari tembaga pada gigi Anda, tidak perlu mengeluarkannya saat hamil karena takut membahayakan kehamilan. Tambalan tembaga yang diperuntukan gigi tidak mengandung merkuri, yang mana jika tubuh terpapar merkuri dalam jumlahnya hal ini dikatakan dengan risiko keguguran. Ahli medis pun tidak menganjurkan ibu hamil mengganti jenis tambalan giginya saat itu juga.

Sumber : Suaramerdeka




Nikmatnya Melahirkan Seperti Orgasme


Proses melahirkan bisa jadi suatu hal yang mengerikan bagi ibu yang baru pertama kali hamil. Tapi kini proses melahirkan bisa lebih menyenangkan dan berkurang rasa sakitnya dengan menggunakan gerakan Orgasmic Birth. Melahirkan rasanya seperti orgasme.

Orgasme dan melahirkan tentu bukan dua kata yang memiliki arti hampir sama, tapi dengan gerakan Orgasmic Birth kedua kata ini seperti saling berhubungan. Ibu hamil yang telah mencoba cara ini mengungkapkan proses melahirkan jauh dari rasa sakit yang menyiksa serta lebih menyenangkan sama seperti saat proses pembuahan dilakukan.

Salah satu ibu hamil yang telah menggunakan gerakan ini saat melahirkan anaknya adalah Isobel Patterson (31 tahun) seorang pengacara dari Brighton. Isobel melahirkan putri pertamanya bernama Amelia dengan menggunakan gerakan Orgasmic Birth yang disaksikan langsung oleh suaminya, James. Isobel selalu mengingat hari itu sebagai hari yang paling menyenangkan dalam hidupnya.

"Saya menyadari banyak teman-teman yang menjalani proses melahirkan dengan perasaan tersiksa selama 10-20 jam. Tapi saya hanya membutuhkan waktu 7 jam yang menyenangkan dan disertai dengan orgasme," ujar Isobel seperti dikutip dari Timesonline, Rabu (30/12/2009).

Seperti kebanyakan ibu hamil lainnya, Isobel sebelumnya pun merasa takut ketika menghadapi proses melahirkan. Saat kontraksi terjadi di tengah malam, Isobel ingin seseorang yang membantunya adalah orang yang tidak memiliki ikatan emosional dengannya. Kebetulan saat itu ibu dan suaminya sedang tertidur, Isobel hanya ditemani asisten bidan atau doula yang tetap tenang, santai dan berpikir bahwa pengalaman yang hebat akan segera terjadi.

"Aku menghabiskan waktu selama 3 jam untuk merangkak di ruang tamu. Saat kontraksi semakin meningkat dan waktu untuk melahirkan semakin dekat, saya mulai merasakan sensasi. Itu adalah perasaan paling luar biasa yang dimulai dari panggul lalu ke seluruh tubuh bagian bawah," ungkap Isobel.

Saat itu bagian panggul mulai terdorong ke bawah dan tanpa sadar kaki Isobel bergetar serta mulai merasakan orgasme berkepanjangan yang berlangsung berjam-jam. Meskipun sebenarnya ada konsep yang berbeda antara melahirkan dengan orgasme.

"Doula mengatakan bahwa bagian klitoris saya berdenyut hingga akhirnya sang bayi bergerak ke bawah. Tiga jam kemudian bayi saya lahir tanpa rasa sakit dan proses pemulihan yang cepat karena tidak ada yang robek atau dijahit," tambahnya.

Isobel sempat merasa bersalah karena merasakan seks saat melahirkan putri pertamanya. Tapi ternyata banyak perempuan di luar sana merasakan hal yang sama dengannya.

"Saya percaya di tahun mendatang, orgasme selama persalinan akan menjadi bagian alami dari suatu proses melahirkan. Gagasan ini telah didukung oleh banyaknya bukti perempuan yang melahirkan dengan gerakan orgasme," ujar Michel Odent, seorang obstetri.

Mengalami orgasme saat melahirkan biasanya ditunjang oleh adanya sentuhan fisik yang bisa memberikan sensasi tersendiri. Dr Christiane Northrup seorang ahli obstetri dan ginekologi mengungkapkan bahwa orgasme yang terjadi selama proses melahirkan adalah proses alami.

"Ketika bayi turun menuju jalur lahir, posisinya sama dengan adanya sesuatu yang masuk ke dalam vagina seperti penis. Jika ditunjang oleh adanya sentuhan fisik dari suami atau bidan, maka bisa menyebabkan orgasme," ujar Dr Christiane.

Perempuan yang mengalami orgasme saat melahirkan akan membantu mempercepat proses keluarnya bayi. Selama persalinan ada perubahan besar dari hormon di tubuh seperti meningkatkan hormon prolaktin, beta-endorfin dan oksitosin yang dilepaskan. Hormon ini akan memberikan sensasi kesenangan dan membantu mendorong bayi ke jalan lahir.

Sumber : Detik.com




Risiko Menunda Kehamilan


Helsinki, Beberapa pasangan suami istri terkadang suka menunda kehamilan demi mengejar karir atau alasan lainnya. Tapi peneliti dari Finlandia mengungkapkan perempuan yang menunda kehamilan hingga bertahun-tahun memiliki risiko melahirkan bayi yang tidak sehat.

"Perempuan yang menunda kehamilan atau membutuhkan waktu lama untuk hamil berisiko mengalami masalah selama kehamilan dan proses persalinannya, seperti mengalami diabetes saat hamil atau adanya infeksi pada selaput yang mengelilingi janin," ujar Dr Kaisa Raatikainen dari Kuopio University Hospital, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (31/12/2009).

Kemampuan seorang perempuan untuk hamil sangat dipengaruhi oleh usianya. Sebagai contoh, sekitar 85 persen perempuan yang berusia subur atau kurang dari 35 tahun bisa hamil dalam waktu kurang lebih satu tahun. Tapi untuk perempuan yang berusia di atas 35 tahun hanya setengahnya yang memiliki kemungkinan untuk bisa hamil.

Dalam jurnal Fertility and Sterility, peneliti dari Finlandia mengungkapkan perempuan yang memiliki kesulitan untuk memiliki anak adalah perempuan yang gemuk, suka minum alkohol atau merokok. Peneliti melakukan studi terhadap 17.114 kehamilan yang terjadi antara tahun 1989 hingga 2007 di Kuopio University Hospital. Para perempuan ini tidak ada yang menggunakan teknik bantuan untuk hamil.

Didapatkan perempuan yang hamil dalam waktu 6 bulan sebesar 75 persen, perempuan yang hamil dalam waktu 6 bulan sampai 1 tahun sebesar 12 persen, perempuan yang hamil dalam waktu 13 bulan hingga 2 tahun sebesar 6 persen dan yang membutuhkan waktu lebih dari 2 tahun sebesar 4 persen.

Peneliti menemukan semakin lama waktu yang dibutuhkan oleh perempuan tersebut untuk hamil, maka semakin besar pula kemungkinan untuk mengalami setidaknya satu kali keguguran sebelumnya.

Setelah menyesuaikan dengan faktor-faktor lain seperti usia dan apakah pernah mengalami keguguran sebelumnya atau tidak, didapatkan perempuan yang membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk hamil memiliki kemungkinan mengalami persalinan prematur atau bayi yang tidak sehat sebesar 64 persen.

Sumber : Detik.com




Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan yang membutuhkan waktu lebih lama untuk hamil, kemungkinan memiliki masalah dalam proses kehamilan atau persalinannya. Sebaiknya pasangan suami istri tak perlu menunda kehamilan terlalu lama.

Jenis-jenis Penyakit Kelamin

Jenis Jenis Penyakit kelamin [ Ciri2 dan tanda2 ]
Petunjuk mengenai Penyakit-penyakit Kelamin

GONORRHEA & CHLAMYDIA
  • Disebabkan oleh bakteri. Infeksi dimulai beberapa hari sampai beberapa minggu setelah hubungan intim dengan orang yang terjangkit penyakit ini
  • Pada pria, penyakit ini menyebabkan keluarnya cairan dari kemaluan pria. Buang air kecil dapat terasa sakit. Gejala-gejala ini dapat terasa berat atau tidak terasa sama sekali.
  • Gejala-gejala gonorrhea pada wanita biasanya sangat ringan atau tidak terasa sama sekali, tetapi kalau tidak diobati penyakit ini dapat menjadi parah dan menyebabkan kemandulan
  • Penyakit ini dapat disembuhkan dengan antibiotik bila ditangani secara dini

HERPES
  • Disebabkan oleh virus, dapat diobati tetapi tidak dapat disembuhkan
  • Gejala timbul antara 3 sampai 10 hari setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini
  • Gejala awal muncul seperti lecet yang kemudian terbuka menjadi lubang kecil dan berair. Dalam 5 sampai 10 hari gejala hilang
  • Virus menetap dalam tubuh dan dapat timbul lagi sesuatu saat, dan kadang-kadang sering
  • Wanita kerap kali tidak sadar bahwa ia menderita herpes akrena lecet terjadi di dalam vagina
INFEKSI JAMUR
  • Disebabkan oleh jamur
  • Menyebabkan kegatalan berwarna merah di bawah kulit pria yang tidak disunat
  • Pada wanita akan ke luar cairan putih kental yang menyebabkan rasa gatal
  • Dapat disembuhkan dengan krim anti jamur
SYPHILIS
  • Disebabkan oleh bakteria. Lesi muncul antara 3 minggu sampai 3 bulan setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit ini
  • Luka terlihat seperti lubang pada kulit dengan tepi yang lebih tinggi. Pada umumnya tidak terasa sakit
  • Luka akan hilang setelah beberapa minggu, tetapi virus akan menetap pada tubuh dan penyakit dapat muncul berupa lecet-lecet pada seluruh tubuh Lecet-lecet ini akan hilang juga, dan virus akan menyerang bagian tubuh lain
  • Syphilis dapat disembuhkan pada tiap tahapan dengan penicillin
  • Pada wanita lesi dapat tersembunyi pada vagina
VAGINISTIS
  • Infeksi pada vagina yang biasanya menyebabkan keluarnya cairan dari vagina yang berbau dan menimbulkan ketidak nyamanan
  • Disebabkan oleh berbagai jenis bakteri (bakteri gonorrhea, chlamydia) atau jamur
  • Juga dapat disebabkan oleh berbagai bakteri tidak berbahaya yang memang menetap pada vagina
  • Dapat diselidiki dengan meneliti cairan vagina tersebut dengan mikroskop
  • Pada umumnya dapat disembuhkan dengan obat yang tepat sesuai dengan penyebabnya.

BISUL PADA ALAT KELAMIN
  • Disebabkan oleh virus (Virus Human Papilloma atau HPV)
  • Muncul berupa satu atau banyak bisul atau benjolan antara sebulan sampai setahun setelah berhubungan intim dengan penderita penyakit tersebut
  • Pada umumnya tidak dapat terlihat pada wanita karena terletak di dalam vagina, atau pada pria karena terlalu kecil. Dapat diuji dengan lapisan cuka
  • Dapat berakibat serius pada wanita karena dapat menyebabkan kanker cervix
  • Bisul pada kelamin ini dapat disembuhkan, wanita harus menjalankan pap smear setiap kali berganti pasangan intim

KUTU KELAMIN
  • Sangat kecil (lebih kecil atau sama dengan 1/8 inch), berwana kelabu kecoklatan, menetap pada rambut kemaluan.
  • Dapat disembuhkan dengan obat cair yang digosokkan pada rambut kelamin

KUTU DI BAWAH KULIT
  • Mirip dengan kutu kelamin, tetapi ukurannya lebih kecil dan menetap di bawah kulit
  • Menyebabkan luka-luka kecil dan gatal di seluruh tubuh
  • Diobati dengan obat cair yang diusapkan ke seluruh tubuh
  • Pakaian, seprei dan handuk harus dicuci setelah pengobatan, karena kutu dapat menetap pada kain-kain terebut

AIDS (ACQUIRED IMMUNE DEFICIENCY SYNDROME)/HIV DISEASE
  • Penyakit akibat hubungan intim yang paling serius, menyebabkan tidak bekerjanya sistim kekebalan tubuh
  • Tidak ada gejala yang nyata tanpa penelitian darah
  • Dapat menyebabkan kematian setelah sepuluh tahun setelah terinfeksi virus HIV, tetapi pengobatan telah ditemukan
  • Disebarkan melalui hubungan intim [berciuman, making love], hubungan dengan lendir penderita dan pemakaian jarum suntik secara bersamaan.



Beberapa Cara Prediksi Hipertensi Dalam Kehamilan

Hingga saat ini hipertensi dalam kehamilan masih merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan janinnva. Upaya pencegahan terhadap penyakit ini dengan sendirinya akan menurunkan angka morbiditas dan mortalitas tersebut. Untuk itu diperlukan bukan hanya pengetahuan mengenai patofsiologi tetapi juga cara-cara deteksi dini dan cara intervensi terhadap perubahan yang terjadi dalam proses penyakit tersebut.
Perlu dibedakan antara prediksi dan deteksi dini penyakit. Prediksi lebih awal dari deteksi dini yakni sebelum tanda atau gejala penyakit ditemukan. Deteksi dini berusaha menemukan kelainan awal penyakit yang bila dibiarkan akan berlanjut, namun batas antara prediksi dan deteksi dini kadang-kadang tidak jelas.
Gejala-gejala preeklampsia baru menjadi nyata pada usia kehamilan yang lanjut (trimester ketiga). Namun sebenarnya kelainan sudah terjadi jauh lebih dini yakni pada usia kehamilan antara 8 dan 18 minggu. Tes yang ideal untuk deteksi dini preeklampsia harus sederhana, mudah dikerjakan, tidak memakan waktu lama, non invasif, sensitivitasnya tinggi dan mempunyai nilai prediksi positif yang tinggi.

CARA-CARA PREDIKSI:
Lebih dari 100 jenis pemeriksaan klinik, biofisik dan biokimia telah diajukan untuk mendeteksi terjadinya preeklampsia.
Beberapa cara prediksi yang ada dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Pemeriksaan baku pada perawatan antenatal
2. Pemeriksaan sistem vaskuler
3. Pemeriksaan biokimia
4. Pemeriksaan hematologi
5. Ultrasonografi

1. Pemeriksaan baku pada perawatan antenatal
a. Tekanan darah
Gambaran klinik yang khas pada hipertensi dalam kehamilan (HDK) yaitu ditemukannya kenaikan tekanan darah yang tinggi. Perbedaan kenaikan tekanan darah mempunyai arti klinis yang lebih penting dibandingkan dengan nilai absolut tekanan darah yang tinggi. Demikian pula kenaikan tekanan diastolik mempunyai arti prognostik yang lebih bermakna dari pada perubahan sistolik. Pengukuran tekanan darah sebaiknya menggunakan tensimeterair raksa, dengan penderita posisi duduk. Pengukuran dilakukan setelah penderita beristirahat sedikitnya 10 menitdan diulang sedikitnya 2 kali pemeriksaan. Dinyatakan hipertensi bila:
  1. Terdapat kenaikan tekanan sistolik > 30 mmHg atau tekanan sistolik mencapai 140 mmHg atau lebih.
  2. Bila didapatkan kenaikan tekanan diastolik > 15 mmHg atau tekanan diastolik mencapai 90 mmHg atau lebih.
Mayoritas ibu hamil akan tetap normotensif selama kehamilan bila tekanan darah diastolik <>8 ng/kgbb/menit menghasilkan respons tekanan darah 20 mmHg, tetap normotensi selama kehamilan, sedangkan yang mengdapat <> 350 umol/l merupakan pertanda suatu preeklampsia berat dan berhubungan dengan angka kematian perinatal yang tinggi khususnya pada umur kehamilan 28-36 minggu. Pada penderita yang sudah terbukti preeklampsia maka kadar asam urat serum menggambarkan beratnya proses penyakit.

b. Kadar kalsium
Beberapa peneliti melaporkan adanya hipokalsiuria dan perubahan fungsi ginjal pada pasien preeklampsia. Perubahanperubahan tersebut terjadi beberapa waktu sebelum munculnya tanda-tanda klinis. Hal ini terlihat dari perubahan hasil tes fungsi ginjal. Rondriquez mendapatkan bahwa pada umur kehamilan 24-34 minggu bila didapatkan mikroalbumniuria dan hipoklasiuria ini dideteksi dengan pemeriksaan tera radioimunologik.

c. Kadar human chorionic gonadotrophin (hCG)
Beberapa peneliti melaporkan bahwa kadar -hCG meningkat pada penderita preeklampsia. Sorensen dkk melaporkan bahwa wanita hamil trimester 11 dengan kadar hCG > 2 kali nilai rata-rata mempunyai risiko relatif 1,7 kali lebih besar untuk mengalami preeklampsia dibandingkan dengan wanita yang mempunyai kadar -hCG <> 14.5%
gr%. Gerstner (dikutip oleh pengemanan) menyatakan adanya hubungan langsung antara nilai Ht dengan indeks gestosis.
Indeks gestosis > 7 selalu disertai Ht > 37%, dan dikatakan ada korelasi antara hematokrit dan progesivitas penyakit.
c. Kadar trombosit dan fibronectin
Redman (dikutip oleh pengemanan) menyatakan bahwa HDK didahului oleh menurunnya trombosit sebelum tekanan darah meningkat, dan trombositopeni merupakan tanda awal HDK. Dikatakan trombositopenia bila kadar trombosit <>


Sejarah Imunisasi dan Penemunya

  1. Sekitar 600 SM dicina dilakukan penyuntikan material cacar air via lubang hidung.
  2. 1718 : Penyuntikan material dari luka cacar air kepada orang sehat pertama kali di inggris, dan kemudian di amerika. salah satu orang yangf melakuannya adalah seorang bapak negarawan amerika, yaitu thomas jefferson.
  3. 1796 : Edwar Jenner ;pertama kali melakukan imunisasi pada poasien cacar air dengan material dari luka cacar air sapi. Jenner menyuntik James Phipps, seorang bocah lelaki berumur delapan tahun dengan sesuatu yang diambil dari bintik penyakit "cacar sapi" yang ada di tangan seorang pemerah susu. Sebagaimana memang diharapkan, bocah kecil itu kehinggapan "cacar sapi" tetapi segera sembuh. Beberapa minggu kemudian, Jenner menyuntikkan Phipps serum cacar. Dan sebagaimana diharapkan pada bocah itu tak tampak tanda-tanda penyakit. Sesudah melakukan penyelidikan bebih mendalam, Jenner memperkenalkan hasil-hasil usahanya lewat sebuah buku tipis berjudul An Inquiry into the Causes and Effects of the Variolae Vaccinae, diterbitkannya secara pribadi tahun 1798. Buku itulah yang jadi penyebab diterimanya vaksinasi secara umum dan berkembang luas. Sesudah itu Jenner menulis lima artikel lagi mengenai soal vaksinasi, dan bertahun-tahun dia mengabdikan waktunya menyebarluaskan pengetahuan tentang tekniknya dan kerja keras agar dapat diterima orang. Praktek vaksinasi berkembang cepat di Inggris, kemudian menjadi hal yang diharuskan dalam kalangan Angkatan Darat dan Angkatan Laut Inggris. Dan berbarengan dengan itu diterima pula oleh sebagian besar negeri-negeri di dunia. Jenner dengan cuma-cuma mempersembahkan tekniknya kepada dunia dan tak berusaha sedikit pun peroleh keuntungan uang dari itu. Tetapi, di tahun 1802 parlemen Inggris sebagai tanda terimakasih dan penghargaan menghadiahkannya uang sejumlah 20.000 pond. Maka Jenner pun menjadi orang yang tennasyhur di jagad, dibanjiri rupa-rupa penghormatan dan medali. Jenner kimpoi dan punya tiga anak. Dia hidup hingga umur 73 tahun, meninggal dunia di awal taliun 1823 di rumahnya di kota Berkeley. Tp perlu dicermati gan, sebelom dia mempopulerkan vaksin cacar nya, dia rela mukanya ancur gara gara cacar untuk buktikan keampuhan vaksinnya
  4. 1885 : Louis Pasteur ; Menemukan vaksin rabies untuk seorang pemuda yang digigit oleh anjing gila. Penemuan pribadi Pasteur yang paling termasyhur adalah pengembangan teknik penyuntikan terhadap manusia untuk mencegah penyakit Rabies yang ditakuti. Lain-lain ilmuwan, dengan meniru gagasan dasar Pasteur, sejak itu mengembangkan vaksin untuk mencegah lain-lain penyakit berat seperti tifus dan poliomyelitis. Penemuan lainnya adalah pengembangan vaksin untuk mencegah berjangkitnya penyakit kolera pada ayam dan penyakit yang menyerang unggas. Orang sering membuat bandingan antara Pasteur dengan Edward Jenner, ahli fisika Inggris yang mengembangkan vaksin untuk pencegahan cacar. Meskipun Jenner melakukannya 80 tahun sebelum Pasteur, saya menganggap arti penting Jenner tidaklah sebesar Pasteur, karena sistem pengebalannya berlaku hanya untuk satu jenis penyakit saja, sedangkan sistem Pasteur dapat --dan telah terbukti-- ampuh untuk mengebalkan terhadap banyak penyakit. Pasteur menghembuskan nafas terakhir di dekat Paris tahun 1895.
  5. 1954 : Jonas Salk ;Mengenalkan vaksin yang dapat disuntikkan untuk melawan penyakit polio. Berbekal dasar pengetahuan dari penelitian sebelumnya, Salk mulai menyelidiki tentang virus polio penyebab penyakit poliomyelitis. Penyakit ini cukup mengerikan. Kondisi paling parah yang dapat terjadi adalah penderita dapat mengalami kelumpuhan permanen bahkan kematian. Virus penyerang sel-sel saraf ini dapat menjangkiti orang dewasa dan paling banyak menyerang anak-anak yang belum memiliki kekebalan terhadap serangan penyakit ini. Masih di tahun yang sama, ada juga seorang yang menemukan vaksin oral untuk polio yang mengandung virus yang sudah dilemahkan. dia adalah albert sabin
  6. Albert sabin ; vaksin oral telah diuji pada sedikitnya 100 juta orang di Uni Soviet, bagian dari Eropa Timur, Singapura, Meksiko dan Belanda. Produksi industri pertama dan massa penggunaan vaksin virus polio oral (OPV) dari strain Sabin diselenggarakan oleh ilmuwan Soviet Mikhail Chumakov .Hal ini memberikan dorongan kritis karena membiarkan uji klinis skala besar dari OPV di Amerika Serikat pada bulan April 1960 tentang Cincinnati 180.000 anak-anak sekolah. Imunisasi massa teknik yang dipelopori Sabin dengan rekan-rekannya diberantas secara efektif polio di Cincinnati. Melawan oposisi dari The March of dimes Foundation, yang mendukung membunuh vaksin relatif efektif, Sabin menang pada Layanan Kesehatan Umum untuk lisensi tiga jenis vaksin. Sementara PHS terhenti, Uni Soviet mengirimkan jutaan dosis vaksin oral polio ke tempat-tempat dengan epidemi, seperti Jepang, dan menuai keuntungan kemanusiaan. Memang tidak jelas bagi banyak orang bahwa vaksin adalah satu Amerika, dibiayai oleh dolar AS, tetapi tidak tersedia bagi orang Amerika biasa. tapi sayangnya Menurut Keith Olbermann, Sabin terungkap dalam sebuah wawancara televisi bahwa pengalaman telah membuat dia memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya bekerja pada mengurangi rasa sakit. Kondisi ini telah berhasil diobati dengan pembedahan yang dilakukan di Johns Hopkins rumah sakit pada tahun 1992 ketika Sabin berusia 86
Beberapa jenis imunisasi dan golongan yang orang yang wajib ikut imunisasi jenis ini:
  1. MMR : orang yang lahir setelah 1957, bekerja di fasilitas kesehatan atau yang suka melakukan perjalanan
  2. Influeza : Orang yang berusia 50 tahun keatas. pemuda penderita jantung, paru kronis, diabetes, gangguan ginjal, gangguan hemoglobin, atau penurunan kekebalan tubuh, dan juga calon jemaah haji
  3. Pneumokok : Orang yang berusia diatas 65 tahun, dan juga yg berusia dibawah 65 tahun yang menderita penyakit jantung kronis, paru kronis, diabetes, gangguan limpa, AIDS, leukimia, tumor, atau gagal ginjal.
  4. Hepatitis A : Orang yang bepergian ke daerah endemis, pramusaji, pemakai narkotik, penderita penyakit hati, orang yang megalami resiko pekerjaan ( peneliti atau org yg bekerja utk primata yg kena hepatitis A) dan juga penderita gangguan pembekuan darah atau hemofilia
  5. Varisela (cacar air) : Petugas kesehatan, guru yg mengajar anak anak, anggota militer, wanita usia subur yang belom hamil dan juga pada orang yang suka bepergian
  6. Rabies : Individu yang beresiko tinggi macam dokter hewan, petugas yang berurusan dengan hewan, pekerja labotarium, dan orang yang suka bepergian ke tempat endemis



29 Desember, 2009

Gambaran Pengetahuan Primipara Terhadap Perkembangan Bayi 0-1 Tahun Di Kelurahan

Memiliki anak sehat dan cerdas adalah dambaan setiap orang tua, untuk mewujudkan tentu saja orang tua harus selalu memperhatikan, mengawasi dan merawat anak secara seksama, khususnya memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan. Di Kelurahan Tanjung Raya terdapat 7 dari 12 primipara yang memiliki bayi 0-1 tahun lebih memfokuskan pada perkembangan motorik kasar saja dan mereka beranggapan bahwa bila anaknya dapat berjalan sebelum waktunya maka nantinya anak itu akan pintar.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang pengetahuan primipara terhadap perkembangan bayi 0-1 tahun di Kelurahan Tanjung Raya Kecamatan Tanjung Karang Timur bulan April-Mei 2006. Subjek pada penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi 0-1 tahun di Kelurahan Tanjung Raya. Adapun objek yang menjadi penelitian itu adalah pengetahuan primipara terhadap perkembangan bayi 0-1 tahun.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu primipara yang memiliki bayi 0-1 tahun di Kelurahan Tanjung Raya sebanyak 43 orang. Pengumpulan data menggunakan angket dan pengukuran variabel dengan skala nominal. Kemudian dilakukan pengolahan data melalui tiga tahap yaitu editing, coding dan tabulating. Dan analisa data dengan tehnik analisa data univariat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan primipara terhadap pengertian perkembangan yang termasuk dalam kategori baik (37,20%) dan kurang (62,80%), tahap perkembangan perilaku sosial yang termasuk dalam kategori baik (44,19%) dan kurang (55,81%), tahap perkembangan kecerdasan emosional yang termasuk dalam kategori baik (55,81%) dan kurang (44,19%), tahap perkembangan kemampuan bahasa yang termasuk dalam kategori baik (51,16%) dan kurang (48,845), serta tahap perkembangan kemampuan motorik bayi 0-1 tahun didapatkan hasil yang baik (34,89%) dan yang kurang (65,11%).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengetahuan primipara terhadap perkembangan bayi 0-1 tahun didapatkan hasil yang baik sebesar 44,65%. Dan yang kurang sebesar 55,35%.





Karakteristik Pelaksanan Senam Lansia Di Posyandu Lestari Desa XXXX

Sesuai dengan bentuk pokok kesehatan nasional, maka pada prinsipnya penyelenggaraan upaya kesehatan usia lanjut dilakukan sebagai bagian dari kegiatan Puskesmas yang didukung oleh peran aktif masyarakat. Secara alami kelompok usia lanjut mengalami kemunduran fisik, biologik, mental maupun sosialnya. Senam adalah suatu bentuk kegiatan fisik yang memberikan pengaruh baik terhadap tingkat kemampuan fisik manusia bila dilaksanakan dengan tepat dan terarah.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pelaksanaan senam lansia di Posyandu Lestari Desa Kalirejo Lampung Tengah ditinjau dari jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan.

Subyek penelitian ini adalah semua pelaksana senam lansia di Posyandu Lestari Desa Kalirejo Lampung Tengah tahun 2006 dengan sampel sebanyak 35 orang. Obyek pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total populasi atau sampel jenuh.Obyek penelitian ini adalah pelaksana senam lansia di Posyandu Lestari Desa Kalirejo Lampung Tengah. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total populasi atau sampel jenuh.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan “survey” dengan analisis kuantitatif.Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan instrumen pengumpulan data kuesioner.data dikumpulkan dan diolah.

Hasil penelitian menunjukkkan bahwa : 1) Jenis kelamin pelaksana senam lansia yang terbayak adalah 29 orang (82,86%) dengan jenis kelamin perempuan, 2) Tingkat pendidikan pelaksana senam lansia yang terbanyak adalah 12 orang (34,29) dengan pendidikan SD, 3) Pekerjaan pelaksana senam lansia terbanyak adalah 13 orang (37,14) pelaksana dengan pensiunan, Tingkat pengetahuan pelaksana senam lansia yang terbanyak adalah 27 orang (77,14%) pelaksana dengan tingkat pengetahuan cukup. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa : Jenis kelamin pelaksana senam lansia lebih banyak diikuti oleh lansia dengan jenis kelamin perempuan, Tingkat pendidikan pelaksana senam lansia lebih banyak lansia dengan pendidikan SD, Pekerjaan pelaksana senam lansia sebagian besar diikuti oleh lansia dengan pensiunan, Tingkat pengetahuan pelaksana senam lansia lebih banyak dengan tingkat pengetahuan cukup.





FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI OLEH KADER DI POSYANDU WILAYAH PUSKESMAS XXX

Di Indonesia gerakan nasional Peningkatan Pemanfaatan Air Susu Ibu (PP-ASI) yang telah dicanangkan oleh Presiden Republik Indonesia kedua pada acara puncak peringatan hari ibu ke-62 tanggal 22 Desember 1990, menunjukkan dukungan pemerintah dalam Peningkatan Pemanfaatan Air Susu Ibu (PP-ASI) (Soetjiningsih, 1998).

Dewasa ini di Indonesia 80-90% para ibu di daerah pedesaan masih menyusui anaknya sampai umur lebih dari dua tahun, tetapi di kota-kota Air Susu Ibu (ASI) sudah banyak diganti dengan susu botol. Banyak faktor yang menyebabkan penurunan penggunaan ASI ini. Di kota-kota banyak ibu-ibu ikut bekerja untuk mencari nafkah, sehingga tidak dapat menyusui anaknya dengan baik dan teratur (Tumbelaka dalam Soetjiningsih, 1997).

ASI tidak perlu diragukan lagi, karena ASI merupakan makanan anak yang paling baik dan ASI juga bermanfaat bagi tumbuh kembang anak untuk lebih optimal, akan tetapi ada kalanya oleh suatu sebab misalnya ibu yang bekerja harus menambah atau mengganti ASI dengan makanan tambahan bahkan harus dilakukan penyapihan dini (Soetjiningsih, 1998).
ASI mempunyai manfaat praktis dan psikologis yang harus dipertimbangkan bila ibu memilih metode untuk pemberian makanannya. Air susu ibu adalah yang paling cocok dari semua susu yang tersedia untuk anak manusia, karena ia secara unik disesuaikan untuk kebutuhan dirinya (Nelson, 1999).

ASI merupakan makanan ideal untuk anak, secara psikologis maupun biologis. ASI memberikan keuntungan bagi keluarga maupun bagi anak dan balita. ASI mengandung zat gizi untuk membangun dan penyediaan energi dalam susunan yang diperlukan dan melindungi anak terhadap infeksi terutama infeksi pencernaan (Pudjiadi, 1997).

Pada usia sampai dengan enam bulan kebutuhan anak dapat dipenuhi oleh ASI. Setelah itu kebutuhan anak semakin bertambah dengan pertumbuhan dan perkembangan anak dan produksi ASI menurun. Karena itu anak memerlukan makanan tambahan (PASI) ini dilihat dari pemenuhan kebutuhan fisik. Namun demikian saat menyusui dapat dibentuk pemenuhan psikologis, sehingga menyusui dapat diteruskan minimal satu tahun, karena anak dibawah usia satu tahun dalam fase oral, dimana anak akan memerlukan kebutuhan rasa aman yang sangat dominan (Moehji, 2000).

Penyapihan anak diberbagai tempat dilakukan pada berbagai umur anak. Di masyarakat pedesaan umumnya penyapihan jarang dilakukan terhadap anak sebelum umur satu tahun, bahkan berlangsung lebih lama lagi, sampai umur lebih dari dua tahun. Dalam beberapa kasus, anak tidak disapih sampai berumur empat tahun. Dilain pihak, pada masyarakat perkotaan terdapat kecenderungan yang jelas bahwa penyapihan anak dilakukan pada umur yang lebih dini, bahkan ada pula yang menyapihkannya pada umur baru beberapa minggu (Suhardjo, 2000).

Penyapihan dibawah 1 tahun dapat mempengaruhi pertumbuhan anak, misalnya Kurang Energi Protein (KEP). KEP dapat terjadi karena para ibu yang telah melahirkan, dan ibu kembali lagi bekerja sehingga harus meninggalkan anak dari pagi sampai sore. Dengan demikian anak tersebut tidak mendapat ASI yang merupakan nutrisi pokok disamping Pemberian Air Susu Ibu (PASI) atau makanan tambahan tidak diberikan sebagaimana mestinya (Pudjiadi, 1997).

Kebanyakan anak sedikit demi sedikit mengurangi volume frekuensi kebutuhan ASI-nya pada usia 6-12 bulan dan mereka menjadi terbiasa dengan penambahan jumlah makanan padat dan cairan dengan botol dan cangkir. Karena anak hanya butuh sedikit ASI, penyediaan ASI ibu makin lama makin berkurang, menyebabkan ibu terbebas dari kencang payudara. Penyapihan harus dimulai dengan mengganti susu formula atau susu sapi dengan botol atau cangkir pada sebagian ASI dan selanjutnya untuk semua bagian ASI (Nelson, 1999).





FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN IBU MEMBERIKAN 5 (LIMA) IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYINYA (ANALISIS KUALITATIF)

Kesehatan merupakan masalah yang penting dalam sebuah keluarga, terutama yang berhubungan dengan bayi dan anak. Mereka merupakan harta yang paling berharga sebagai titipan Tuhan Yang Maha Esa, juga dikarenakan kondisi tubuhnya yang mudah sekali terkena penyakit. Oleh karena itu, bayi dan anak merupakan prioritas pertama yang harus dijaga kesehatannya.

Pemerintah mewajibkan setiap anak untuk mendapatkan imunisasi dasar terhadap tujuh macam penyakit yaitu penyakit TBC, Difteria, Tetanus, Batuk Rejan (Pertusis), Polio, Campak (Measles, Morbili) dan Hepatitis B, yang termasuk dalam Program Pengembangan Imunisasi (PPI) meliputi imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B. Imunisasi lain yang tidak diwajibkan oleh pemerintah tetapi tetap dianjurkan antara lain terhadap penyakit gondongan (mumps), rubella, tifus, radang selaput otak (meningitis), HiB, Hepatitits A, cacar air (chicken pox, varicella) dan rabies.

Kendala utama untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak dalam sistem perawatan kesehatan yaitu rendahnya kesadaran yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan dan tidak adanya kebutuhan masyarakat pada imunisasi, jalan masuk ke pelayanan imunisasi tidak adekuat, melalaikan peluang untuk pemberian vaksin dan sumber-sumber yang adekuat untuk kesehatan masyarakat dan program pencegahannya.

Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. Dalam hal ini peran orang tua, khususnya ibu menjadi sangat penting, karena orang terdekat dengan bayi dan anak adalah ibu. Demikian juga tentang pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan ibu. Pengetahuan, kepercayaan, dan perilaku kesehatan seorang ibu akan mempengaruhi kepatuhan pemberian imunisasi dasar pada bayi dan anak, sehingga dapat mempengaruhi status imunisasinya. Masalah pengertian, pemahaman dan kepatuhan ibu dalam program imunisasi bayinya tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan dan pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan.





FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI DAN TIDAK MEMILIH ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI (ANALISIS KUALITATIF)

Perkembangan penduduk saat ini terus mengalami peningkatan yang begitu pesat. Kesadaran dunia tentang bahaya pertumbuhan penduduk yang besar dan cepat telah mengundang pemimpin dunia untuk mempersoalkan penduduk dunia yang makin membahayakan, dunia semakin sempit pada hari hak asasi manusia 1967 dengan inti bahwa persoalan penduduk setiap negara merupakan masalah vital dalam kaitan dengan tujuan pembangunan untuk meningkatkan martabat manusia.vasektomi adalah operasi sederhana untuk memotong saluran kecil pembawa sperma dari kantongnya (zakar) ke penis.
Di wilayah Propinsi Lampung saat ini pengguna vasektomi sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari target BKKBN program vasektomi hingga september 2007 sebanyak 1100 akseptor yang tercapai 887 akseptor.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran secara mendalam mengenai faktor penyebab suami memilih alat kontrasepsi vasektomi dan suami tidak memilih alat kontrasepsi vasektomi di wilayah Kec. Metro selatan tahun 2009.
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan penerapan pendekatan kualitatif, subjek penelitian yaitu suami pengguna alat kontrasepsi vasektomi dan suami yang tidak menggunakan alkon vasektomi. Sedangkan objek penelitiannya adalah Faktor penyebab suami memilih alat kontrasepsi vasektomi dan suami tidak memilih alat kontrasepsi vasektomi.. Total populasi pada penelitian ini yaitu suami yang menggunakan vasektomi di Metro Timur yang berjumlah 4 orang dan suami yang tidak memakai vasektomi sebanyak 1.946 orang, sedangkan sampel yang diambil adalah 4 responden dengan teknik. non probabilitas. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini terdiri dari panduan wawancara mendalam (in-depth interview guidelines). Alat lain yang digunakan adalah alat perekam (tape recorder) dan alat tulis.
Hasil penelitian serta kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi suami memilih dan tidak memilih vasektomi meliputi faktor pengetahuan, sikap, adat-agama, dukungan istri/keluarga, dan sikap petugas kesehatan.

Kata Kunci : Faktor penyebab, suami, alat kontrasepsi vasektomi.

http://bascommetro.blogspot.com/2009/12/cara-pemesanan-karya-tulis-ilmiah.html

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI SIKAP REMAJA TENTANG SEKS PRANIKAH DI PONDOK PESANTREN DINIYAH PUTRI XXXXX (ANALISIS KUALITATIF)

Remaja adalah masa peralihan antara tahap anak dan dewasa yang jangka waktunya berbeda-beda tergantung faktor sosial dan budaya. Cirinya adalah alat reproduksi mulai berfungsi, libido mulai muncul, intelegensi mencapai puncak perkembangannya, emosi sangat labil, kesetiakawanan yang kuat terhadap teman sebaya dan belum menikah. Kondisi yang belum menikah menyebabkan remaja secara sosial budaya termasuk agama dianggap belum berhak atas informasi dan edukasi apalagi pelayanan medis untuk kesehatan reproduksi (Sarlito, 1998). Dengan masuknya remaja ke dalam dunia hubungan sosial yang luas maka mereka tidak saja harus mulai adaptasi dengan norma perilaku sosial tetapi juga sekaligus dihadapkan dengan munculnya perasaan dan keinginan seksual ( Djoko Hartono 1998 ).

Dorongan perasaan dan keinginan seksual cukup pesat pada remaja dapat mengakibatkan remaja menjadi rentan terhadap pengaruh buruk dari luar yang mendorong timbulnya perilaku seksual yang beresiko tinggi. Pengaruh buruk tersebut dapat berupa informasi-informasi yang salah tentang hubungan seksual, misalnya film-film, buku-buku, dan lainnya. Hal tersebut dapat mendorong remaja untuk berprilaku seksual aktif (melakukan hubungan intim sebelum menikah), yang mempunyai resiko terhadap remaja itu sendiri. Resiko tersebut dapat berupa kehamilan remaja dengan berbagai konsekuensi psikologi seperti putus sekolah, rasa rendah diri, kawin muda, dan perceraian dini. Selain itu, resiko lain yang dihadapi dari perilaku seksual aktif tersebut adalah abortus, penyakit menular, gangguan saluran reproduksi pada masa berikutnya (tumor), dan berbagai gangguan serta tekanan psikoseksual/sosial di masa lanjut yang timbul akibat hubungan seksual remaja pranikah (Badan Kependudukan Catatan Sipil dan Keluarga Berencana Kota Metro, 2006).

Dengan terus berkembangnya teknologi, maka informasi yang salah tentang seksual mudah sekali didapatkan oleh para remaja, sehingga media massa dan segala hal yang bersifat pornografis akan menguasai pikiran remaja yang kurang kuat dalam menahan pikiran emosinya, karena mereka belum boleh melakukan hubungan seks yang sebenarnya yang disebabkan adanya norma-norma, adat, hukum dan juga agama. Semakin sering seseorang tersebut berinteraksi atau berhubungan dengan pornografi maka akan semakin beranggapan positif terhadap hubungan seks secara bebas demikian pula sebaliknya, jika seseorang tersebut jarang berinteraksi dengan pornografi maka akan semakin beranggapan negatif terhadap hubungan seks secara bebas. Apabila anak remaja sering dihadapkan pada hal-hal yang pornografi baik berupa gambar, tulisan, atau melihat aurat, kemungkinan besar dorongan untuk berhubungan secara bebas sangat tinggi, bisa lari ketempat pelacuran atau melakukan dengan teman sendiri. Hal-hal yang merugikan dari perilaku terhadap seks bebas tidak akan terjadi, apabila individu memiliki kesadaran bertanggung jawab yang kuat. Dan bila remaja dihadapkan pada rangsangan sosial yang tidak baik seperti seks bebas maka remaja akan dapat menentukan sikap yang tepat yaitu sikap yang negatif atau tidak mendukung perilaku terhadap seks bebas, sebaliknya bila remaja memiliki sikap dengan tanggung jawab yang rendah maka terbentuklah pribadi yang lemah sehingga mudah terjerumus pada pergaulan yang salah sehingga berlanjut kepada perilaku sek bebas (http://www.balipost.co.id, 2009).

Perilaku seks bebas di dunia saat ini terus mengalami peningkatan yang sangat pesat. Pitchkal (2002) melaporkan bahwa di AS, 25% anak perempuan berusia 15 tahun dan 30% anak laki-laki usia 15 tahun telah berhubungan intim. Di Inggris, lebih dari 20% anak perempuan berusia 14 tahun rata-rata telah berhubungan seks dengan tiga laki-laki. Di Spanyol, dalam survei yang dilakukan tahun 2003, 94,1% pria hilang keperjakaannya pada usia 18 tahun dan 93,4% wanita hilang keperawanannya pada usia 19 tahun.

Beberapa hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa perilaku seks pranikah di kalangan remaja mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Survey terhadap pelajar SMU di Jakarta dan Surabaya menyebutkan terjadinya peningkatan presentase seks pranikah dari tahun 1997-1999. 9 % remaja putra dan 1 % remaja putri di Jakarta telah melakukan hubungan seks pranikah pada tahun 1997, dan angka ini mengalami peningkatan menjadi 23 % remaja putra dan 4 % remaja putri pada tahun 1999 dalam “Remaja,”2001). Sementara hasil penelitian yang dilakukan Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan-Pusat Pelatihan Bisnis Humaniora Yogyakarta pada tahun 1999-2002 terhadap 1660 mahasiswi Yogyakarta menemukan bahwa 97,05 % responden telah kehilangan kegadisannya dalam masa kuliah (http://lib.atmajaya.ac.id , 2009).

Sebuah survei terbaru terhadap 8084 remaja laki-laki dan remaja putri usia 15-24 tahun di 20 kabupaten pada empat propinsi (Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung) menemukan 46,2% remaja masih menganggap bahwa perempuan tidak akan hamil hanya dengan sekali melakukan hubungan seks. Kesalahan persepsi ini sebagian besar diyakini oleh remaja laki-laki (49,7%) dibandingkan pada remaja putri (42,3%). Dari survei yang sama juga didapatkan bahwa hanya 19,2% remaja yang menyadari peningkatan risiko untuk tertular PMS bila memiliki pasangan seksual lebih dari satu. 51% mengira bahwa mereka akan berisiko tertular HIV hanya bila berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK) (http://www.kesrepro.info, 2009).

Penelitian lain yang dilakukan tahun 2005-2006 menunjukkan di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar, 47,54 persen remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah. Namun, hasil survey terakhir tahun 2008 meningkat menjadi 63 persen

Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan seksual pranikah, survei MCR-PKBI Jabar membagi dalam 8 faktor. Berdasar jawaban yang masuk, faktor sulit mengendalikan dorongan seksual menduduki peringkat tertinggi, yakni 63,68%. Selanjutnya, faktor kurang taat menjalankan agama (55,79%), rangsangan seksual (52,63%), sering nonton blue film (49,47%), dan tak ada bimbingan orangtua (9,47%). Tiga faktor terakhir yang turut menyumbang hubungan seksual pranikah adalah pengaruh tren (24,74%), tekanan dari lingkungan (18,42%), dan masalah ekonomi (12,11). (http://www.tempointeractive.com, 2009)





FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI DESA XXX

Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia dan negara-negara lain relatif tinggi, Penurunan AKI serta peningkatan derajat kesehatan ibu menjadi prioritas utama dalam pembangunan, bidang kesehatan di Indonesia. Adapun salah satu upaya yang dapat dilakukan dapat terwujud dalam bentuk safe motherhood atau disebut juga penyelamat ibu dan bayi (Sarwono, 2002).
Pelayanan KB yang berkualitas belum sepenuhnya menjangkau seluruh wilayah nusantara. Pemerintah terus menekan laju pertambahan jumlah penduduk melalui program keluarga berencana (KB). Sebab jika tidak meningkatkan peserta KB maka jumlah penduduk Indonesia akan mengalami peningkatan.

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor faktor-faktor yang mempengaruhi minat ibu terhadap pemakaian kontrasepsi implant di Desa Bangunrejo Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah tahun 2006.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif diambil 10% dari 810 responden, sedangkan tehnik yang digunakan adalah tehnik sampling jenuh. Untuk mengumpulkan data digunakan metode angket dan alat ukur berupa kuisioner.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di desa Bangunrejo Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah secara umum didapatkan hasil bahwa tingkat pendidikan pasangan Usia Subur dikategorikan masih rendah yaitu tingkat SMP (37,04%), dan tingkat pengetahuan Pasangan Usia Subur baik (87,65%), tingkat pendapatan dikategorikan sedang (54,32%), dan sikap responden menolak terhadap pemakaian implant sebanyak 65,43%.
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian adalah faktor yang mempengaruhi PUS terhadap pemakaian kontrasepsi implant di desa Bangunrejo Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah adalah tingkat pendidikan PUS yang masih dikategorikan rendah, tingkat pendapatan PUS yang masih dikategorikan sedang, dan sikap PUS yang menolak atau tidak menerima terhadap kontrasepsi implant.

Kata Kunci : Minat Pemakaian Kontrasepsi Implant




PENGETAHUAN DAN APLIKASI MAHASISWI TINGKAT II AKBID XXXX TENTANG PARTOGRAF

Partograf merupakan alat bantu untuk membuat keputusan klinik, memantau, mengevaluasi dan menatalaksana persalinan Sebagian besar penyebab kematian dapat dicegah dengan penanganan yang adekuat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petugas kesehatan dalam menolong persalinan. Partograf dapat digunakan untuk mendeteksi dini masalah dan penyulit dalam persalinan sehingga dapat sesegera mungkin menatalaksana masalah tersebut atau merujuk ibu dalam kondisi optimal. Instrumen ini merupakan salah satu komponen dari pemantauan dan penatalaksanaan proses persalinan secara lengkap.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan aplikasi mahasiswi tingkat II AKBID Wira Buana Metro tentang Partograf. Subjek penelitian ini adalah seluruh mahasiswi tingkat II AKBID Wira Buana Metro yang berjumlah 60 mahasiswi dan objek penelitian ini adalah pengetahuan dan Aplikasi mahasiswi tingkat II AKBID Wira Buana Metro tentang partograf.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif, pengumpulan data dilakukan dengan alat bantu kuisioner berupa pertanyaan bentuk multiple choice dan soal aplikasi.

Hasil penelitian dengan kuisioner berupa multiple choice menunjukkan bahwa 15 responden (25%) masuk dalam kategori baik, 29 responden (48,33%) dalam kategori cukup, 15 responden (25%) dalam kategori kurang, dan 1 responden (1,66%) masuk dalam kategori kurang sekali. Hasil Penelitian dengan kuisioner berupa soal aplikasi menunjukan bahwa 29 responden (46,66%) masuk dalam kategori baik, 6 responden (10%) masuk dalam kategori cukup, 2 responden (3,33%) masuk dalam kategori kurang, dan 23 responden (38,33%) masuk dalam kategori kurang sekali.

Kesimpulan dari penelitian ini bahwa rata-rata pengetahuan mahasiswa Tingkat II Akbid Wira Buana Metro tentang partograf dengan tipe soal multiple chois termasuk dalam kategori cukup dengan kemampuan menjawab 66,25% dan rata-rata pengetahuan mahasiswa tentang partograf dengan tipe soal aplikasi masuk dalam kategori cukup dengan kemampuan menjawab 68,92%.

Kata kunci : Pengetahuan, partograf






GAMBARAN RENDAHNYA CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU XXX

Dalam beberapa tahu terakhir AKB telah banyak mengalami penurunan yang cukup menggembirakan meskipun tahun 2001 meningkat kembali sebagai dampak dari berbagai krisis yang melanda Indonesia. Pada tahun 1971 Angka Kematian Bayi (AKB) diperkirakan sebesar 152 per 1000 kelahiran hidup, kemudian turun menjadi 117 pada tahun 1980, dan turun lagi menjadi 44 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2000. Berdasarkan Estimasi Susenas tahun 2002-2003 Angka Kematian Bayi (AKB) berturut-turut pada tahun 2001 sebesar 50 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 2002 sebesar 45 per 1000 kelahiran hidup (Indikator Kesejahteraan Anak 2000 (Estimasi SUPAS 1995) dan Estimasi Susenas 2002-2003).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan penimbangan balita di Posyandu Sinar Purnomo Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur.

Subjek dalam penelitian ini adalah semua ibu yang mempunyai balita. Sedangkan Objek dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu. Populasi yang diteliti adalah 50 ibu yang mempunyai balita dan juga merupakan sebagai sampel yang diteliti sebanyak 50 ibu (penelitian populasi).

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu menggambarkan tentang karakterisitik ibu dan pengetahuan ibu yang tidak membawa balitanya untuk di timbang di posyandu. Pengumpulan data dilakukan dengan tehnik angket menggunakan instrumen pengumpulan data kuisioner. Data dikumpulkan dan diolah dengan tabel distribusi frekuensi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang tidak menimbangkan balitanya tingkat umur terbesar berumur 20-35 tahun dengan jumlah 24 responden (66,7%), paritas terbesar adalah multipara dengan jumlah 22 responden (66,7%), tingkat pendidikan terbesar berpendidikan Perguruan Tinggi dengan jumlah 2 responden (100%), jenis pekerjaan yang terbesar bekerja sebagai PNS dengan jumlah 1 responden (100%), tingkat ekonomi terbesar memiliki pendapatan Rp. 750.000 - Rp.1.400.000,- dengan jumlah 8 responden (80%), tingkat pengetahuan responden yang terbesar yaitu baik dengan jumlah 21 responden (70%).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa gambaran rendahnya cakupan penimbangan balita di Posyandu Sinar Purnomo Desa Siraman Kecamatan Pekalongan Lampung Timur dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: paritas, pekerjaan dan ekonomi.

Kata kunci : Gambaran, cakupan penimbangan balita.






CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI BPS XXXX

Masa nifas adalah masa yang dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang lamanya kira-kira 6 minggu. Ibu nifas mempunyai kebutuhan dasar yaitu minum vitamin A, pemberian kapsul vitamin A bagi ibu nifas dapat menaikkah jumlah kandungan vitamin A dalam ASI. Berdasarkan data Dinkes Metro Januarai 2008, cakupan pemberian vitamin A yang peling rendah adalah di Puskesmas Iring Mulyo yaitu 212 (30,76%) dari 698 sasaran. Dari data prasurvey pada 3 BPS, ternyata hanya 2 BPS yang memberikan vitamin A pada ibu nifas.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas di BPS wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo Tahun 2008. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif, subjek penelitiannya yaitu Ibu nifas di BPS wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo. Sedangkan objek penelitiannya adalah pemberian vitamin A. Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah 93 orang ibu nifas. Alat pengambilan data yang digunakan adalah lembar observasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 13 BPS di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo, terdapat 5 BPS (38,5%) yang sama sekali tidak memberikan vitamin A pada ibu nifas, 5 BPS (38,5%) memberikan vitamin A sebanyak 1 kali dan 3 BPS (23%) memberikan vitamin A sebanyak 2 kali. Cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifasnya hanya 43% dari 100% target program.

Kesimpulan secara umum dapat diketahui bahwa di wilayah kerja Puskesmas Iring Mulyo terdapat 5 BPS (38,5%) yang sama sekali tidak memberikan vitamin A pada ibu nifas, 5 BPS (38,5%) memberikan vitamin A sebanyak 1 kali dan 3 BPS (23%) memberikan vitamin A sebanyak 2 kali. Cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifasnya hanya 43% dari 100% target program.

Kata Kunci : Pemberian Vitamin A, ibu nifas


Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA





PENATALAKSANAAN PENCEGAHAN INFEKSI PADA PROSES PERTOLONGAN PERSALINAN DI KLINIK XXX

Tindakan pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang diberikan kepada ibu dan bayi baru lahir dan harus dilaksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran, saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal/pasca salin/bayi baru lahir/saat menatalaksana penyulit.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan pencegahan infeksi di Klinik Griya Medika Banjar Agung Tulang Bawang Tahun 2008 yang terdiri dari prosedur cuci tangan, pemakaian sarung tangan, pengelolaan cairan antiseptik, pemrosesan alat bekas pakai, pengelolaan sampah medik.

Subjek penelitian ini adalah bidan dan perawat yang terlibat pada proses pertolongan persalinan di Klinik Griya Medika Banjar Agung Tulang Bawang Tahun 2008. Populasi dalam penelitian ini bidan dan perawat yang terlibat pada proses pertolongan persalinan di Klinik Griya Medika Banjar Agung Tulang Bawang, yang berjumlah 6 orang yang seluruhnya dijadikan sampel dalam penelitian ini. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi mengguakan alat bantu berupa chek list dan pengukurannya menggunakan skala nominal dengan perhitungan persentase dan nilai rata-rata.

Hasil penelitian ini menunjukan Penatalaksanaan prosedur cuci tangan ada 2 responden (33,3%) dengan kategori baik, dan 4 responden (66,7%) dengankategori kurang. Dari 5 langkah penatalaksanaan pencegahan infeksi tentang prosedur cuci tangan yang diobservasi pada 6 responden rata-rata responden sudah melakukan 5 langkah penatalaksanaan (100%).
Penatalaksanaan pemakaian sarung tangan ada 4 responden (66,7%) dengan kategori baik dan 2 responden (33,3%) dengankategori kurang. Dari 5 langkah penatalaksanaan pencegahan infeksi tentang pemakaian sarung tangan yang diobservasi pada 6 responden rata-rata responden sudah melakukan 5 langkah penatalaksanaan (100%)

Penatalaksanaan pengelolaan cairan antiseptik ada 2 responden (33,3%) dengan kategori baik, dan 4 respoden (66,7%) dengan kategori kurang. Dari 9 langkah penatalaksanaan pencegahan infeksi tentang pengelolaan cairan antiseptik yang diobservasi pada 6 responden rata-rata responden sudah melakukan 3 langkah penatalaksanaan (33,3%) dan yang tidak dilakukan ada 6 langkah penatalaksanaan (66,7%)

Penatalaksanaan pemprosesan alat bekas pakai dengan prosedur sterilisasi ada 4 responden (66,7%) dengan ketegori baik dan 2 responden (33,3%) dengankategori kurang. Dari 15 langkah penatalaksanaan pencegahan infeksi tentang pemrosesan alat bekas pakai dengan prosedur sterilisasi yang diobservasi pada 6 responden rata-rata responden sudah melakukan 4 langkah penatalaksanaan (26,7%) dan yang tidak dilakukan ada 11 langkah penatalaksanaan (73,3%).

Penatalaksanaan pengelolaan sampah medik ada 1 responden (16,7%) dengan kategori baik dan 5 responden (83,3%) dengan kategori kurang. Dari 10 langkah penatalaksanaan pencegahan infeksi tentang pengelolaan sampah medik yang diobservasi pada 6 responden rata-rata responden sudah melakukan 3 langkah penatalaksanaan (30%) dan yang tidak dilakukan ada 7 langkah penatalaksanaan (70%)

Kesimpulan dari penelitian ini adalah penatalaksanaan pencegahan infeksi pada proses pertolongan persalianan di Klinik Griya Medika Banjar Agung Tulang Bawang Tahun 2008 telah dilakukan dengan baik.

Kata Kunci : Penatalaksanaan, Pencegahan infeksi








HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM SPONTAN PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS XXXX

Menurut (SKRT, 1995), Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) masing-masing adalah 373/100.000 kelahiran hidup. Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua perdarahan setelah atonia uteri. Dari data prasurvey angka kejadian rupture perineum pada ibu primigravida persalinan normal di BPS Dwi Yuni Fitarianti tahun 2007 yaitu 41 orang (65%) dari 63 persalinan normal pada primigravida.

Faktor-faktor penyebab rupture perineum pada persalinan normal antara lain perineium kaku, kepala janin terlalu cepat melewati dasar panggul, berat badan bayi yang dilahrikan, leher perineum dan paritas (Suwito, 1999).

Tujuan penulis dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan berat badan lahir dengan rupture perineum persalinan normal pada pimigravida di BPS Dwi Yuni Fitarianti tahun 2007.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode cross sectional dengan jumlah sampel 63 orang primigravida. Pengumpulan data menggunakan checklist dari registrasi laporan partus tahun 2007. Analisa data menggunakan analisa univarian dengan presentasi didapat 41 responden (65%) mengalami ruptur dan 22 responden (35%) tidak mengalami ruptur. Berat badan > 3.100 sebanyak 32 responden (51%) dan BB < dk =" 1."> chi kuadrat tabel), dengan tingkat signifikan 0,70.

Pencegahan terhadap kejadian rupture dapat di lakukan sejak masa kehamilan, saat persalinan dan masa post partum untuk pemulihan dan persiapan bagi kehamilan Selanjutnya. Dalam hal ini perlu ditingkatkan pengetahuan dan pengalaman bidan dalam memberikan asuhan kebidanan kepada ibu bersalin sehingga dapat mengenali tanda – tanda perineum yang kaku di saat persalinan berlangsung serta dapat menilai dan mengambil tindakan yang tepat untuk menghindari terjadinya rupture perineum.

Kata kunci : Berat badan lahir, rupture perineum spontan







FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ANEMIA DALAM KEHAMILAN DI BPS XXXX

Frekuensi ibu hamil dengan anemia di Indonesia relatif tinggi yaitu 63,5% kekurangan gizi dan perhatiannya kurang terhadap ibu hamil merupakan predisposisi anamie defisiensi ibu hamil di Indonesia. Jika persediaan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena ibu hamil mengalami hemodilusi (pengencerah) dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 – 34 minggu. Akan tetapi dalam kenyataan tidak semua ibu hamil yang anemia mendapat tablet zat besi meminumnya secara rutin. Hal ini disebabkan karena faktor ketidaktahuan pentingnya zat besi untuk kehamilannya. Dampak yang diakibatkan minum tablet zat besi dan peningkatan kadar Hb sesuai yang diharapkan. Faktor lain yang berhubungan dengan anemia adalah faktor sosial ekonomi yang rendah juga memegang peranan penting kaitannya dengan asupan gizi ibu selama hamil.

Penelitian adalah penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan di BPS Yusriyana Karya Mukti Lampung Timur Tahun 2008.

Instrumen dalam penelitian menggunakan lembar koesioner kemudian dilakukan pengolahan data dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Subjek penelitian yaitu pada ibu hamil yang trimester III di BPS Yusriyana Karya Mukti Lampung Timur, sedangkan objek penelitiannya adalah para ibu hamil trimester III yang mengalami anemia. Populasi dalam penelitian adalah 18 orang ibu hamil yang mengalami anemia sehingga sampel pada penelitian ini adalah populasi yaitu seluruh populasi dijadikan sampel.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi anemia dalam kehamilan berdasarkan tingkat pengetahuan di BPS Yusriyana Karya Mukti Lampung Timur dalam kategori kurang yaitu 9 orang (51,39%), tingkat konsumsi tablet Fe 90 tablet dan tidak berturut-turut sebanyak 13 orang (72%) dan tingkat sosial ekonomi termasuk dalam ekonomi rendah yaitu sebanyak 10 orang (55%).

Kata Kunci : Faktor yang Mempengaruhi, Anemia, Kehamilan.








GAMBARAN PENATALAKSANAAN CARA MEMANDIKAN NEONATUS 0-7 HARI TERHADAP IBU NIFAS DI BPS XXXX

Bayi yang baru lahir sebaiknya tidak dimandikan walaupun dengan air hangat, karena bayi belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Jika bayi dibasahi dengan air maka panas yang ada dalam tubuhnya akan terambil sehingga suhu tubuhnya akan turun drastis. Jika bayi yang baru lahir kehilangan suhu tubuh, darah yang mengalir dalam tubuh yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuhnya akan berkurang. Memandikan bayi bagi ibu nifas merupakan pekerjaan yang berat dan membingungkan karena kondisi tali pusat bayi yang masih basah, di tambah lagi dengan kondisi ibu setelah proses persalinan yang melelahkan dan bertambah sulit lagi jika ibu bersalin post sesio secarea atau post vakum. Namun jika mengetahui pedoman penatalaksanaan memandikan bayi yang benar maka hal itu bukanlah pekerjaan yang berat (Dr. Bona Simanungkalit, DH.SM., M.Kes., 2007).

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui Gambaran Penatalaksanaan Cara Memandikan Neonatus 0-7 Hari terhadap Ibu Nifas di BPS Dwi Yuni Fitariyanti Tegineneng Lampung Selatan. Subjek dari penelitian ini adalah Ibu Nifas di BPS Dwi Yuni Fitariyanti Tegineneng Lampung Selatan, sedangkan objek penelitiannya adalah Cara Memandikan Neonatus 0-7 hari. Populasi yang diteliti adalah keseluruhan ibu nifas sebanyak 40 orang, dan sampel yang diambil adalah keseluruhan populasi yang berjumlah 40 orang sehingga penelitian ini adalah penelitian populasi.

Jenis penelitian yang diambil adalah penelitian deskriptif yang menggambarkan pelaksanaan cara memandikan neonatus 0-7 hari. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen penelitian berupa cheklist pelaksanaan memandikan neonatus oleh ibu nifas dimana data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan tabel distribusi frekuensi.

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pelaksanaan cara memandikan neonatus 0-7 oleh ibu nifas di BPS Dwi Yuni Fitariyanti Tegineneng Lampung Selatan yang termasuk dalam kategori baik sebanyak 8 orang (20%), dalam kategori cukup sebanyak 31 orang (77,50%), dalam kategori kurang sebanyak 1 orang (2,50%), sedangkan dalam kategori kurang sekali tidak ada.

Kata kunci : Memandikan neonatus 0-7 hari, Ibu Nifas.








ANALISA SENAM HAMIL PADA IBU HAMIL DI KELAS IBU DI POSYANDU XXXXX

Mengajarkan senam membantu fisik mendorong istirahat dan relaksasi rutinitis fisik kemudian di buat pada masa antenatal untuk meningkatkan kesehatan fisik dan membantu mencegah masalah dalam program penekanan diberikan pada wanita hamil yang belajar rileks dan nafas dalam selama kontraksi. Thomas dan Grantly Dick read menawarkan program persalinan dan menjadi orang tua mencakup pendidikan relaksasi dan pernafasan.
Nyeri pinggang bawah lazim terjadi pada kehamilan dengan insiden yang dilaporkan bervariasi kira-kira 50% di Inggris (Monk, 1994) sampai mendekati 70% di Australia (Bullock Sasyton, 1988) manhe melaporkan bahwa 16%.

Wanita-wanita yang diteliti mengeluh nyeri punggung yang hebat 36%. Materi persiapan senam ibu menjadi orang tua umumnya dibatasi hanya untuk senam abdomen dan senam dasar panggul dan banyak ibu membimbing lanjutan dan senam dasar panggul dan banyak ibu meminta bimbingan lanjutan untuk mendapatkan senam yang bermanfaat telah tercatat bahwa hampir 45% dari ibu-ibu mengikuti senam ……..dari 1000 wanita yang disurvai melanjutkan aktifitas selama mereka hamil.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan pelaksanaan senam hamil pada ibu hamil di kelas ibu di posyandu Yosomulyo 21 Metro Pusat tahun 2008.

Jenis penelitian adalah analitik, dengan instrumen penelitian lembar kuesioner dan ceklist kemudian dilakukan pengolahan data dan disajikan dalam tabel distribusi frekuensi. Subyek penelitian yaitu ibu hamil yang melaksanakan senam hamil di kelas ibu di posyandu Yosomulyo 21 Metro Pusat sedangkan obyek penelitian adalah ibu hamil yang melaksanakan senam hamil di kelas ibu.

Populasi dalam penelitian adalah 30 ibu hamil yang melaksanakan senam hamil sehingga sampel pada penelitian ini adalah populasi yaitu seluruh populasi dijadikan sampel.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui pengetahuan berpengaruh pada pelaksanaan senam hamil pada ibu hamil di kelas ibu di posyandu Yosomulyo Metro Pusat.

Kata kunci : Analisa, senam hamil






Pengetahuan ibu primigravida tentang kehamilan di RB XXXX

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar dinegara berkembang dan dinegara miskin. Sekitar 25 – 50% kematian wanita usia subur disebabkan hal yang berkaitan dengan kehamilan. World Heath Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 585 000 ibu pertahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia selatan wanita berkemungkinan 1 : 18 meninggal akibat kehamilan / persalinan selama kehidupan, Negara afrika 1 : 14 sedangkan di Amerika Utara 1 : 6,366. Lebih dari 50% kematian di Negara berkembang sebenarnya dapat di cegah dengan tehnologi yang ada serta biaya relatif rendah (Sarwono Prawirohardjo, 2002: 3)

Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan, infeksi dan eklamsi. Sekitar 5% kematian ibu disebabkan oleh penyakit yang memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi kronis. Selain itu keadaan ibu sejak prahamil dapat berpengaruh terhadap kehamilannya. Hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan ibu tentang kehamilan. (Sarwono Prawirohardjo, 2002 : 6).

Penyebab tak langsung kematian ibu antara lain adalah : anemia, Kekurangan Energi Kronik (KEK) dan keadaan “4 terlalu” (terlalu muda/ tua, sering dan banyak. Kematian ibu di Indonesia diwarnai oleh hal hal non teknis yang masuk katagori penyebab mendasar seperti : rendahnya status wanita, ketidak berdayaannya dan taraf pendidikan yang rendah (Sarwono Prawirohardjo, 2002: 6).

Akses terhadap pelayanan antenatal sebagai pilar ke dua Safe Motherhood cukup baik, yaitu 87% pada tahun 1997 namun mutunya perlu ditingkatkan terus (Sarwono Prawirohardjo, 2002 : 7)







Pengetahuan Ibu Menyusui Tentang Dampak Pemberian Makanan Pendamping ASI Pada Bayi Usia Kurang Dari 6 Bulan di Desa XXXX

ASI ekslusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan diberikan setiap saat dan tidak diberikan makanan tambahan lain walau pun hanya air putih sampai bayi berumur 6 bulan. Menurut data profil kesehatan Propinsi Lampung pada tahun 2002 jumlah bayi yang ada sebesar 159. 987 bayi yang diberikan ASI ekslusif hanya 68.527 bayi atau (42,83%). Sebagian besar ibu sudah memberikan makanan pendamping ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan karena ibu sibuk bekerja dan kurangnya pengetahuan ibu tentang pemberian ASI ekslusif. Bayi yang diberikan makanan pendamping ASI kurang dari 6 bulan dapat mengakibatkan resiko jangka panjang dan jangka pendek. Resiko jangka panjang dapat terjadi obesitas, hipertensi arteriosklerosis, alergi. Pada resiko jangka pendek dapat terjadi penurunan produksi ASI, anemia, gastroenteritis dan berbagai penyakit infeksi, seperti diare, batuk, pilek, radang tenggorokan dan gangguan pernafasan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu menyusui tentang dampak pemberian makanan pendamping ASI pada bayi kurang dari 6 bulan di Desa Banjarrejo Puskesmas Batanghari kab. Lampung Timur.

Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskriptif, instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner dengan teknik analisa menggunakan persentase dan skala ukur ordinal. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah secara acak sederhana atau sampel random sampling. Subyek penelitian ini adalah seluruh ibu menyusui yang memiliki bayi usia kurang dari 6 bulan dan yang telah memberikan makanan pendamping ASI di Desa Banjarrejo Wilayah Kerja Puskesmas Batanghari Kabupaten Lampung Timur.

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pengetahuan ibu menyusui tentang dampak pemberian makanan pendamping ASI pada bayi usia kurang dari 6 bulan termasuk kategori cukup dengan persentase (58,85%) dan yang termasuk kategori cukup dengan persentase (48,15%).

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pengetahuan ibu menyusui di Desa Banjarrejo Wilayah Kerja Puskesmas Batanghari tentang dampak pemberian makanan pendamping ASI pada bayi kurang dari 6 bulan termasuk dalam kategori kurang (58,85%).

Kata kunci : Pengetahuan, ibu menyusui, makanan pendamping ASI






GAMBARAN PENYAPIHAN ANAK KURANG DARI 2 TAHUN DI DESA XXXXXXX

Pada waktu dilahirkan, jumlah sel otak bayi telah mencapai 66% dan beratnya 25% dari ukuran otak orang dewasa, periode pertumbuhan otak yang paling kritis dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun, jadi apabila pada masa tersebut seorang anak menderita gizi dapat berpengaruh negatif terhadap jumlah dan ukuran sel otaknya, dalam hal ini pemberian ASI hingga 2 tahun sangat dianjurkan (Krisnatuti dan Yenrina, 2000).

Keputusan berhenti menyusui adalah pilihan masing-masing ibu. Usia menyapih biasanya 2 tahun, namun ada juga yang sampai 4 tahun atau lebih. Menurut beberapa penelitian komposisi ASI terus berubah hingga anak usia 2 tahun dan masih tetap mengandung nutrisi penting yang berguna untuk membangun system kekebalan tubuh anak (Nadesul, 2007).

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui gambaran penyapihan anak kurang dari 2 tahun di Desa Gondang Rejo 32 B, yang menjadi subyek adalah semua ibu yang melakukan penyapihan anak kurang dari 2 tahun. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah gambaran penyapihan anak kurang dari 2 tahun di Desa Gondang Rejo 32 B. Jumlah populasi dalam penelitian ini yaitu 45 dan yang dijadikan sampel adalah seluruh jumlah populasi.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang menggambarkan tentang Pengetahuan ibu, karakteristik ibu, kehamilan, cara penyapihan dan status gizi anak pada ibu yang melakukan penyapihan anak kurang dari 2 tahun. Data dikumpulkan dan diolah dengan tabel distribusi frekuensi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan dengan kategori tinggi sebanyak 27 orang (60%), pendidikan yang paling banyak adalah tingkat pendidikan SLTP yaitu sebanyak 19 orang (42,22%), pekerjaan yang paling banyak adalah petani sebanyak 23 orang (51,1%), kehamilan yang paling banyak adalah ibu tidak hamil pada saat menyusui sebanyak 41 orang (91,11%), cara penyapihan yang paling banyak adalah dengan cara metode bertahap sebanyak 38 orang (84,44%), setatus gizi balita yang paling banyak adalah berat badan balita berada pada garis kuning sebanyak 26 orang (57,78%).

Kata Kunci : Penyapihan, kurang dari 2 tahun







GAMBARAN AKSEPTOR KB METODE OPERATIF PRIA (MOP) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXXXX

Pengembangan metode kontrasepsi pria masih jauh tertinggal karena adanya hambatan-hambatan yang ditemukan antara lain kesulitan dalam memperoleh informasi tentang alat kontrasepsi, hambatan medis yang berupa ketersediaan alat maupun ketersediaan tenaga kesehatan, selain itu juga adanya rumor yang beredar di masyarakat mengenai alat kontrasepsi sehingga hal ini menjadi faktor penghambat dalam pengembangan metode kontrasepsi (BKKBN, 2001).

Tujuan dalam penelitian ini adalah diketahuinya gambaran keikutsertaan suami menjadi akseptor KB berdasarkan pengetahuan, karakteristik suami (pendidikan, ekonomi), alasan ikut KB MOP, keluhan di Puskesmas Yosomulyo Kecamatan Metro Pusat Tahun 2007.

Penelitian ini adalah penelitian deskritif dengan obyek penelitian; gambaran keikutsertaan suami menjadi akseptor KB MOP. Subyek penelitiannya suami yang menjadi akseptor KB MOP di wilayah kerja Puskesmas Yosomulyo Kecamatan Metro Pusat yang berjumlah 20 akseptor. Populasi yang digunakan adalah seluruh suami yang memakai MOP yang berjumlah 20 akseptor dan sampel yang dipakai adalah 20 akseptor karena populasi < 100 maka sampel diambil semua. (Arikunto, 2006). Alat ukur yang digunakan angket dan kuesioner.

Berdasarkan hasil analisa data tentang gambaran keikutsertaan suami menjadi akseptor KB MOP diperoleh pengetahuan suami sebesar 9 akseptor (40%) atau dalam kategori kurang, berdasarkan tingkat pendidikan suami PUS yang terbanyak adalah 13 akseptor (65%) termasuk dalam jenjang pendidikan dasar, berdasarkan alasannya suami mengikuti KB MOP yang terbanyak adalah anak > 4 sebanyak 12 akseptor (60%) dan sebanyak 18 akseptor (90%) akseptor tidak mempunyai keluhan selama memakai MOP.
Kesimpulannya adalah secara keseluruhan keikutsertaan suami dalam mengikuti akseptor KB MOP berdasarkan pengetahuan yang kurang tentang aksptor KB MOP. Akseptor memakai KB MOP mempunyai alasan sendiri anak > 4 serta selama menggunakan alat kontrasepsi tersebut tidak memiliki keluhan.

Kata Kunci : Keikutsertaan, Akseptor KB MOP






GAMBARAN AKSEPTOR KB AKDR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXXXX

AKDR Merupakan salah satu alat kontrasepsi berjangka panjang dan efektif untuk menjarangkan kelahiran anak. setelah penggunaan AKDR berbagai macam keluhan pada akseptor AKDR, walaupun keluhan ini umum terjadi pada awal-awal pemasangan.

Penelitian ini bertujuan diketahuinya karakteristik akseptor KB AKDR ditinjau dari usia, paritas, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi dan gambaran akseptor KB AKDR ditinjau dari lama pemakaian dan keluhan yang dialami di wilayah kerja Puskesmas Yosomulyo Kecamatan Metro Pusat.

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan subyek penelitian adalah akseptor KB AKDR di wilayah kerja Puskesmas Yosomulyo sreta obyek penelitian adalah gambaran akseptor KB AKDR tentang umur, paritas, pekerjaan, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, lama pemakaian dan keluhan yang dialami. Populasi penelitiannya sebanyak 395 orang pengambilan sampel yaitu 15% dari jumlah populasi 395 yaitu sebanyak 59 orang dengan menggunakan metode quota sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan mengunakan instrumen penelitian berupa kuesioner (daftar pertanyaan).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa akseptor KB AKDR berdasarkan umur akseptor KB AKDR yang tertinggi dengan umur > 30 tahun sebanyak 78%, berdasarkan paritas akseptor KB AKDR yang tertinggi dengan paritas 2 – 3 sebanyak 66,1%, berdasarkan pekerjaan akseptor KB AKDR yang tertinggi dengan pekerjaan PNS sebanyak 47,5%, berdasarkan tingkat pendidikan akseptor KB AKDR yang tertinggi yaitu perguruan tinggi sebanyak 45,8%, berdasarkan tingkat ekonomi akseptor KB AKDR tertinggi yaitu tingkat ekonomi sedang sebanyak 40,7%, berdasarkan pemakaian akseptor KB AKDR yang tertinggi yaitu lama pemakaian 10 – 20 tahun sebanyak 35,6%, berdasarkan keluhan yang dialami akseptor KB AKDR yang tertinggi adalah nyeri atau mules sebanyak 83,1%.
Kesimpulan dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa akseptor KB AKDR banyak mengalami keluhan nyeri/mules. Hal ini biasa terjadi, dan rasa sakit itu akan berkurang dengan semakin lamanya pemakaian AKDR.

Kata Kunci : Karakteristik, Gambaran, Akseptor KB AKDR







Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Fans Page