Judul KTI

Ads 468x60px

16 September, 2011

Faktor yang Mempengaruhi Berat Bayi Lahir


Berat badan lahir merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor melalui suatu proses yang berlangsung selama berada dalam kandungan. Faktor- faktor yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir adalah sebagai berikut (Manuaba, 1998):
  1. Faktor Lingkungan Internal, yaitu meliputi umur ibu, jarak kelahiran, paritas, kadar hemoglobin, status gizi ibu hamil, pemeriksaan kehamilan, dan penyakit pada saat kehamilan.
  2. Faktor  Lingkungan  Eksternal,  yaitu  meliputi  kondisi  lingkungan, asupan zat gizi dan tingkat sosial ekonomi ibu hamil.
  3. Faktor penggunaan sarana kesehatan yang berhubungan frekuensi pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC).

Faktor yang secara langsung atau internal mempengaruhi berat bayi lahir antara lain sebagai berikut :
a.   Usia Ibu hamil
Umur ibu erat kaitannya dengan berat bayi lahir. Kehamilan dibawah umur 20 tahun merupakan kehamilan berisiko tinggi, 2-4 kali lebih tinggi di bandingkan  dengan kehamilan pada wanita yang cukup umur.  Pada  umur  yang  masih  muda,  perkembangan  organ-organ reproduksi dan fungsi fisiologinya belum optimal. Selain itu emosi dan kejiwaannya belum cukup matang, sehingga pada saat kehamilan  ibu  tersebut  belum  dapat  menanggapi  kehamilannya secara sempurna dan sering terjadi komplikasi.
Selain  itu  semakin  muda  usia  ibu  hamil,  maka  anak  yang dilahirkan  akan semakin ringan. Meski kehamilan dibawah umur sangat  berisiko  tetapi  kehamilan  diatas  usia  35  tahun  juga  tidak dianjurkan,  sangat  berbahaya.   Mengingat  mulai  usia  ini  sering muncul  penyakit  seperti  hipertensi,  tumor  jinak  peranakan,  atau penyakit degeneratif pada persendian tulang belakang dan panggul. Kesulitan lain kehamilan diatas usia 35 tahun ini  yakni bila ibu ternyata mengidap penyakit seperti diatas yang ditakutkan bayi lahir dengan   membawa   kelainan.   Dalam   proses   persalinan   sendiri, kehamilan  di  usia   lebih  ini  akan  menghadapi  kesulitan  akibat lemahnya kontraksi rahim serta  sering timbul kelainan pada tulang panggul tengah. Mengingat  bahwa  faktor  umur  memegang  peranan  penting terhadap  derajat kesehatan dan kesejahteraan ibu hamil serta bayi, maka sebaiknya  merencanakan kehamilan pada usia antara 20-30 tahun.

b.  Jarak Kehamilan/Kelahiran
Menurut anjuran yang dikeluarkan oleh badan koordinasi keluarga berencana (BKKBN) jarak kelahiran yang ideal adalah 2 tahun atau lebih,  kerena  jarak   kelahiran  yang  pendek  akan  menyebabkan seorang  ibu  belum  cukup  untuk   memulihkan  kondisi  tubuhnya setelah  melahirkan  sebelumnya.  Ini  merupakan  salah  satu  faktor penyebab kelemahan dan kematian ibu serta bayi yang  dilahirkan. Risiko proses reproduksi dapat ditekan apabila jarak minimal antara kelahiran 2 tahun.

c.   Paritas
Paritas secara luas mencakup gravida/jumlah kehamilan, prematur/jumlah kelahiran, dan abortus/jumlah keguguran. Sedang dalam arti khusus yaitu jumlah atau banyaknya anak yang dilahirkan. Paritas dikatakan tinggi bila seorang ibu/wanita melahirkan anak ke empat atau lebih. Seorang wanita yang sudah mempunyai tiga anak dan  terjadi  kehamilan  lagi  keadaan   kesehatannya  akan  mulai menurun, sering mengalami kurang darah (anemia), terjadi perdarahan  lewat  jalan  lahir  dan  letak  bayi   sungsang  ataupun melintang.

d.  Kadar Hemoglobin (Hb)
Kadar hemoglobin (Hb) ibu hamil sangat mempengaruhi berat bayi yang dilahirkan. Seorang ibu hamil dikatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya dibawah 11 gr/dl. Hal ini jelas menimbulkan gangguan  pertumbuhan hasil konsepsi, sering terjadi immaturitas, prematuritas, cacat bawaan, atau janin lahir dengan berat badan yang rendah (Depkes RI, 2008). Keadaan ini disebabkan karena kurangnya suplai  darah  nutrisi akan  oksigen pada placenta  yang akan berpengaruh pada fungsi plesenta terhadap janin.

e.   Status Gizi Ibu Hamil
Status  gizi  ibu  pada  waktu  pembuahan  dan  selama  hamil  dapat mempengaruhi pertumbuhan janin yang sedang dikandung. Selain itu  gizi  ibu  hamil  menentukan berat  bayi  yang dilahirkan, maka pemantauan gizi ibu hamil sangatlah penting dilakukan. Pengukuran antropometri merupakan salah satu cara untuk menilai status gizi ibu hamil. Ukuran antropometri ibu hamil yang paling sering digunakan adalah kenaikan berat badan ibu hamil dan ukuran lingkar  lengan atas (LLA) selama kehamilan. Sebagai ukuran sekaligus pengawasan bagi kecukupan gizi ibu hamil bisa di lihat dari kenaikan berat badannya. Ibu yang kurus dan selama kehamilan disertai penambahan berat badan yang rendah atau turun   sampai   10   kg,   mempunyai   resiko   paling   tinggi   untuk melahirkan bayi dengan BBLR. Sehingga ibu hamil harus mengalami kenaikan berat badan berkisar 11-12,5 Kg atau 20% dari berat badan sebelum hamil. Sedang Lingkar Lengan Atas (LLA) adalah antropometri yang dapat  menggambarkan  keadaan  status  gizi  ibu  hamil  dan  untuk mengetahui  resiko   Kekurangan  Energi  Kalori  (KEK)  atau  gizi kurang. Ibu yang memiliki  ukuran Lingkar Lengan Atas (LLA) di bawah 23,5 cm berisiko melahirkan bayi BBLR (Depkes RI, 2008). Pengukuran  LLA  lebih  praktis  untuk  mengetahui  status  gizi  ibu hamil karena alat ukurnya sederhana dan mudah dibawa  kemana saja, dan dapat dipakai untuk ibu dengan kenaikan berat badan yang ekstrim.

f. Pemeriksaan Kehamilan
Pemeriksaan kehamilan bertujuan untuk mengenal dan mengidentifikasi masalah yang timbul selama kehamilan, sehingga kesehatan selama ibu hamil dapat terpelihara dan yang terpenting ibu dan  bayi  dalam   kandungan  akan  baik  dan  sehat  sampai  saat persalinan. Pemeriksaan kehamilan dilakukan agar kita dapat segera mengetahui apabila terjadi gangguan / kelainan pada ibu hamil dan bayi   yang   dikandung,   sehingga   dapat   segera   ditolong  tenaga kesehatan (Depkes RI, 2008).

g.   Penyakit Saat Kehamilan
Penyakit pada saat kehamilan yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir  diantaranya  adalah  Diabetes  melitus  (DM),  cacar  air,  dan penyakit  infeksi  TORCH.  Penyakit  DM  adalah  suatu  penyakit dimana   badan   tidak   sanggup   menggunakan   gula   sebagaimana mestinya,   penyebabnya   adalah  pankreas  tidak  cukup  produksi insulin/tidak dapat  gunakan insulin yang ada. Akibat dari DM ini banyak macamnya diantaranya adalah bagi ibu hamil bisa mengalami keguguran, persalinan prematur, kematian dalam rahim, bayi  mati   setelah  lahir  (kematian  perinatal)  karena  bayi  yang dilahirkan  terlalu  besar,  menderita  edem  dan  kelainan  pada  alat tubuh bayi (Manuaba, 1998). Penyakit infeksi TORCH adalah suatu istilah jenis penyakit infeksi  yaitu  Toxoplasma,  Rubella,  Cytomegalovirus dan  Herpes. Keempat jenis  penyakit ini sama bahayanya bagi ibu hamil yaitu dapat menganggu janin yang  dikandungnya. Bayi yang dikandung tersebut  mungkin  akan  terkena  katarak   mata,  tuli,  Hypoplasia (gangguan pertumbuhan organ tubuh seperti jantung, paru-paru, dan limpa). Bisa juga mengakibatkan berat bayi tidak normal, keterbelakangan mental, hepatitis, radang selaput otak,  radang  iris mata, dan beberapa jenis penyakit lainnya (Manuaba, 1998).

Faktor-faktor yang mempengaruhi berat bayi lahir secara tidak langsung/eksternal dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Faktor lingkungan yang meliputi  kebersihan dan  kesehatan lingkungan serta ketinggian tempat tinggal.
  2. Faktor   ekonomi   dan sosial   meliputi   jenis   pekerjaan,   tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu hamil.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Fans Page