Judul KTI

Ads 468x60px

16 Mei, 2012

Hubungan antara Paritas dan Riwayat Kuretase dengan Kejadian Retensio Plasenta pada Ibu Bersalin di Rumah Sakit


Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator terhadap kesehatan sebuah negara saat ini masih sangat tinggi di Indonesia (Depkes RI, 2007 http://depkes.go.id). Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2009 AKI di Indonesia sebesar 212/100.000  kelahiran  hidup. Sementara di Singapura sebesar 3/100.000 kelahiran hidup,di Malaysia 22/100.000 kelahiran hidup, bahkan di Filiphina 85/100.000 kelahiran hidup (Prioritas,.. 2008, http://www.tenaga-kesehatan.com).

Retensio plasenta disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor maternal dan faktor uterus. Faktor maternal antara lain: gravida berusia lanjut, faktor uterus: bekas sectio caesarea, bekas curettage uterus, riwayat retensio plasenta pada persalinan terdahulu, riwayat endometritis (Oxorn, 2010: 489). Retensio plasenta juga disebabkan oleh multiparitas dan faktor plasenta yaitu implantasi plasenta seperti plasenta adhesiva, plasenta akreta, plasenta inkreta dan plasenta perkreta (Manuaba, 2010: 402). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Santoso di Surabaya dalam Chalik (1997: 163) bahwa retensio plasenta mempunyai korelasi yang kuat dengan paritas. Menurut penelitian Yono di Bengkulu terdapat hubungan yang signifikan antara paritas dan retensio plasenta, ibu dengan paritas multipara dapat menyebabkan retensio plasenta sebesar 1,499 kali lipat dibandingkan ibu dengan paritas primipara (Yono, 2011, http://www.yonokmputer.com).

Paritas tinggi merupakan salah satu faktor resiko terjadinya retensio plasenta. Resiko terjadinya retensio plasenta akan meningkat setelah persalinan ketiga atau lebih. Sebanyak 50% kematian maternal mempunyai paritas 3 atau lebih salah satunya terdapat pada riwayat komplikasi obstetrik termasuk retensio plasenta (Sutrisno, 1997: 127). Uterus yang telah melahirkan banyak anak cenderung bekerja tidak efisien dalam semua kala persalinan. Retensio plasenta akan mengganggu kontraksi otot rahim menyebabkan sinus-sinus darah tetap terbuka dan menimbulkan perdarahan, Perdarahan yang lebih dari 500 cc dapat menyebabkan kematian ibu. Resiko komplikasi pada ibu dengan retensio plasenta adalah terjadinya perforasi uterus, perdarahan berlanjut karena Atonia uteri dan terjadinya infeksi (Manuaba, 2010: 404). 

Riwayat tindakan pada uterus yaitu kuretase bisa menyebabkan implantasi plasenta abnormal. Kuretase menyebabkan kerusakan jaringan endometrium akibatnya jaringan endometrium diganti dengan jaringan fibrosis sehingga vaskularisasi menjadi berkurang. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi janin plasenta akan mengadakan perluasan implantasi dan vili khorialis akan menembus dinding uterus lebih dalam lagi sehingga akan terjadi plasenta adhesiva sampai perkreta (Kuretase,... 2009, http://mulkasem.blogspot.com). 

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara paritas dan riwayat kuretase dengan kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin.


Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai hubungan antara paritas dan riwayat kuretase dengan kejadian retensio plasenta pada ibu bersalin di RSUD Jenderal Ahmad Yani Kota Metro Tahun 2010, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Proporsi paritas pada ibu bersalin yang berisiko tinggi sebesar 37,40% dari 238 ibu bersalin.
2. Proporsi riwayat kuretase pada ibu bersalin sebesar 14,3% dari 238 ibu bersalin.
3. Ada hubungan antara paritas dengan kejadian retensio plasenta (p value = 0.000).
4. Ada hubungan antara riwayat kuretase dengan kejadian retensio plasenta (p value = 0,000).

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Fans Page