Judul KTI

Ads 468x60px

19 Maret, 2012

Faktor Resiko Yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Puskesmas


Pneumonia masih merupakan penyakit utama terjadinya kesakitan dan kematian pada bayi dan balita terbesar di seluruh dunia. Pneumonia disebabkan oleh lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia, dan faktor resiko lainnya seperti faktor lingkungan seperti: keberadaan perokok, faktor individu anak seperti: umur anak dan ASI eksklusif, serta faktor ibu seperti: perilaku hidup bersih dan sehat. Data jumlah kasus pneumonia pada balita Provinsi Lampung tahun 2007 sebesar 9.939 kasus, sedangkan untuk Kabupaten Lampung Timur sebanyak 1.396 kasus (14,04%). Dari hasil studi dokumentasi angka kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas batanghari mengalami peningkatan. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu faktor resiko apa saja yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Puskesmas Batanghari Kabupaten Lampung Timur Tahun 2011. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian Pneumonia pada balita di Puskesmas Batanghari Kabupaten Lampung Timur Tahun 2011.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua balita yang berkunjung ke Puskesmas tahun 2011 yang berjumlah 1.197, sampel sebanyak 93 balita dengan tehnik pengambilan systematic random sampling. Alat ukur yang digunakan dengan dengan dokumentasi angket dengan alat ukur berupa lembar kuisioner yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase dan bivariat dengan analisa chi square.
Hasil pengolahan data bahwa frekuensi kejadian Pneumonia  sebanyak 36 balita (38,71%), usia balita tidak beresiko 69 balita (47,19%), tidak mendapatkan ASI Ekskusif 58 balita (62,37%), terpapar asap rokok 52 balita (55,91%), terdapat hubungan antara usia balita dengan kejadian pneumonia p= 0,003, terdapat hubungan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian pneumonia p= 0,027, terdapat hubungan antara paparan asap rokok pada balita dengan kejadian pneumonia p= 0,021.
Kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan antara usia balita, pemberian ASI Eksklusif dan paparan asap rokok pada balita dengan kejadian pneumonia. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak puskesmas untuk memberikan penyuluhan tentang resiko pneumonia pada balita, penggalakkan ASI eksklusif, dan bahaya merokok

Kata Kunci : Faktor resiko, Pneumonia pada balita 
Daftar Bacaan : 23 (1998-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Hubungan Pengetahuan Ibu tentang Pemantauan Pertumbuhan Balita Dengan Status Gizi Balita Di Posyandu


Kekurangan gizi di kalangan anak-anak masih umum di banyak bagian dunia. Menurut perkiraan baru-baru ini, 115 juta anak di bawah 5 tahun di seluruh dunia mengalami kekurangan berat badan. Di Indonesia persentase anak-anak berusia di bawah 5 tahun (balita) yang mengalami gizi buruk (8,8%) dan gizi kurang (19,24%). Pemantauan terhadap pertumbuhan balita masih ditemukan rendahnya balita yang mengalami kenaikan berat badan berdasarkan umur di posyandu desa Gondangrejo masih rendah (78,2%) dibandingkan target sebesar 80%. Dari hasil studi pendahuluan didapatkan bahwa dari 30 orang ibu yang mempunyai balita di Dusun I Desa Gondangrejo terdapat 18 orang ibu balita (60%) yang berpengetahuan kurang tentang pemantauan pertumbuhan balita.
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang pemantauan pertumbuhan balita dengan status gizi balita di posyandu Desa Gondangrejo Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu balita yang ada di Desa Gondangrejo Pekalongan Kabupaten Lampung Timur yang berjumlah 367 dan yang menjadi sampel berjumlah 192 ibu balita dengan tehnik pengambilan simple random sampling. Cara ukur yang digunakan dengan dengan angket dan alat ukur berupa lembar kuisioner dan lembar cheklist yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase dan bivariat dengan analisa chi square.
Hasil pengolahan data pengetahuan ibu tentang pemantauan pertumbuhan balita dengan pengetahuan kurang sebanyak 27,60% (53 dari 192 ibu) dan status gizi kurang sebesar 10,42% (20 dari 192 balita). Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang pemantauan pertumbuhan balita dengan status gizi balita dengan x2 hitung: 20,08 > x2 tabel 3,841.
Kesimpulan penelitian bahwa masih terdapat ibu dengan pengetahuan yang kurang tentang pertumbuhan balita, masih terdapat balita dengan status gizi kurang, dan terdapat hubungan antara pengetahuan ibu tentang pemantauan pertumbuhan balita dengan status gizi balita di posyandu Desa Gondangrejo Kecamatan Pekalongan Kabupaten Lampung Timur. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak puskesmas dan bidan untuk lebih aktif dalam kegiatan posyandu guna memberikan penyuluhan tentang pemantauan pertumbuhan balita.

Kata Kunci : Pengetahuan, Pertumbuhan, Status gizi
Daftar Bacaan : 21 (1994-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Hubungan antara Pengetahuan dan Sikap dengan Kelengkapan Imunisasi TT pada Ibu Hamil di PKM


Penggunaan imunisasi yang penting pada wanita usia subur dan ibu hamil adalah imunisasi TT yang berguna untuk mencegah terjadinya tetanus. Data organisasi kesehatan dunia WHO menunjukkan, kematian akibat tetanus di negara berkembang adalah 135 kali lebih tinggi dibanding negara maju. Tetanus neonatorum menyebabkan 50% kematian perinatal dan menyumbangkan 20% kematian bayi. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi atau pencapaian imunisasi TT pada ibu hamil salah satunya adalah perilaku ibu terhadap imunisasi TT tersebut. Hasil studi pendahuluan di Puskesmas Rajabasa Lama terdapat 1 kasus tetanus mengakibatkan kematian bayi dan 70% ibu dengan pengetahuan yang baik, dan 60% dengan sikap tidak mendukung imunisasi TT
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap dengan kelengkapan Imunisasi TT pada ibu hamil di PKM Rajabasa Lama Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah ibu hamil pada bulan Januari 2012 yang berjumlah 182 orang. dan sampel diambil menggunakan rumus Slovin dengan tehnik simple ramdon sampling sejumlah 125 orang. Cara ukur yang digunakan dengan angket dengan alat ukur berupa kuisioner dan lembar checklist yang dianalisa secara univariat dengan distribusi frekuensi dan bivariat dengan uji chi square.
Hasil pengolahan data bahwa proporsi kelengkapan Imunisasi TT pada ibu hamil terbanyak tidak lengkap sebanyak 82 ibu (65,60%), distribusi frekuensi pengetahuan ibu hamil terbanyak dengan pengetahuan yang kurang  yaitu sebanyak 65 ibu (52,00%), dan distribusi frekuensi sikap ibu hamil terbanyak adalah dengan sikap tidak mendukung sebanyak 64 ibu (51,20%). Terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dengan kelengkapan Imunisasi TT dengan p value 0,03, dan terdapat hubungan antara sikap ibu dengan kelengkapan Imunisasi TT dengan p value: 0,000.
Kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu dengan kelengkapan Imunisasi TT di PKM Rajabasa Lama Kecamatan Labuhan Ratu Kabupaten Lampung Timur Tahun 2012. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak PKM untuk menyusun program KIA dengan penyuluhan pada ibu hamil mengenai pentingnya kelengkapan imunisasi TT.

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, Status Imunisasi TT
Daftar Bacaan : 22 (2001-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Gambaran Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini oleh bidan di Wilayah Kerja Puskesmas


Angka kematian bayi di Indonesia menurut WHO disebutkan bahwa pada tahun 2010 kematian bayi pada kelahiran dan umur kurang dari satu tahun sebesar 27/1000 kelahiran hidup. Dalam upaya penurunan angka kematian bayi dan mencapai ASI Eksklusif, Inisiasi Menyusu Dini adalah langkah untuk mencapai hal tersebut. Hasil pre survey diperoleh data di Puskesmas Kotagajah pada tahun 2011 pencapaian ASI eksklusif baru mencapai 39,36%, dan sebagian besar BPS tidak melakukan IMD.
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini oleh Bidan di wilayah kerja Puskesmas Kotagajah Lampung Tengah tahun 2012.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah semua bidan yang melakukan pertolongan persalinan di wilayah kerja Puskesmas Kotagajah  yang berjumlah 21 bidan dan sampel diambil dari keseluruhan populasi menggunakan tehnik total sampling. Cara ukur yang digunakan dengan angket dengan alat ukur berupa lembar checklist yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase.
Hasil pengolahan data diperleh gambaran pelaksanaan inisiasi menyusu dini oleh bidan di wilayah kerja Puskesmas Kotagajah Lampung Tengah tahun 2011 dari 8 langkah pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini sebagian besar sudah dilaksanakan oleh bidan sesuai dengan prosedur (76,19%), dilaksanakan tidak sesuai prosedur 19,05% dan yang tidak dilaksanakan sebesar 4,76%.
Kesimpulan penelitian bahwa gambaran pelaksanaan inisiasi menyusu dini oleh bidan di wilayah kerja Puskesmas Kotagajah Lampung Tengah tahun 2011 sebagian besar sudah dilaksanakan oleh bidan sesuai dengan prosedur. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak tenaga kesehatan terutama bidan di Puskesmas Kotagajah untuk dapat meningkatkan ketrampilannya dalam pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini.


Kata Kunci : Pelaksanan, Inisiasi Menyusi Dini
Daftar Bacaan : 11 (2006-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Gambaran Penyebab Ruptur Perineum Spontan pada Persalinan Normal di BPS


Rupture perineum adalahluka pda perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu. Pada proses persalinan terdapat tiga faktor yang berperan terhadap terjadinya robekan perineum yaitu faktor ibu, bayi dan penolong persalinan. Faktor ibu yaitu usia ibu, paritas, elastisitas perineum dan lebar perineum. Faktor bayi yaitu berat badan bayi, presentasi kepala dan defleksi kepala bayi terlalu cepat. Faktor penolong yaitu posisi ibu saat melahirkan, partus presipitatus dan kesalahan mengedan. Dari hasil data para survey yang dilakukan penulis angka kejadian ruptur perineum pada BPS Devinalis dalam waktu 3 tahun mengalami peningkatan yaitu dari tahun 2009 (59,9%), tahun 2010 (60,5%) dan tahun 2011 menjadi (64,12%).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyebab ruptur perineum spontan pada persalinan normal di BPS Devinalis Kabupaten Pesawaran tahun 2011, meliputi faktor paritas, berat badan bayi dan partus presipitatus.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin normal dan mengalami ruptur perineum spontan yang tercatat di kartu ibu yang berjumlah 84 orang. Tehnik pengambilan sampel adalah total sampling. Cara ukur yang digunakan dengan dokumentasi dari data sekunder di BPS Devinalis dan pengumpulan data dengan alat ukur berupa lembar ceklist yang dianalisa secara univariat berbentuk distribusi frekuensi dan proporsi.
Hasil penelitian proporsi paritas 66,67% primipara, 32,14% multipara, 1,19% grande multipara. Proporsi berat badan bayi lahir 94,05% dengan berat badan 2.500-4.000 gr dan 5,95% dengan berat badan > 4.000 gr. Proporsi tidak partus presipitatus 95,24%, dan 4,76% partus presipitatus.
Kesimpulan penelitian proporsi kejadian ruptur perineum spontan sebagian besar 66,67% disebabkan karena faktor paritas primipara, sebesar 5,95% rupture perineum disebabkan karena berat badan lahir > 4.000 gr dan 4,76% disebabkan karena partus presipitatus. Berdasarkan hasil tersebut diharapkan tenaga bidan di BPS Devinalis untuk melakukan konseling pada ibu hamil sebagai persiapan menghadapi persalinan terutama konseling untuk mencegah terjadinya rupture perineum dan melakukan pertolongan sesuai dengan standar APN.


Kata Kunci : Rupture perineum, paritas, berat badan bayi, partus presipitatus
Daftar Bacaan : 18 (1998-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA




Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Retensio Plasenta pada ibu bersalin di BPS


Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat. Salah satu prioritas utama dalam pembangunan sektor kesehatan sebagaimana tercantum dalam Propenas serta strategi Making Pregnancy Safer (MPS) atau kehamilan yang aman sebagai kelanjutan dari program Safe Motherhood dengan tujuan untuk mempercepat penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir (MDG’s, 2010), dalam pernyataan yang diterbitkan di situs resmi WHO dijelaskan bahwa untuk mencapai target Millennium Development Goal’s, penurunan angka kematian ibu dari tahun 1990 sampai dengan 2015 haruslah mencapai 5,5 persen pertahun (antaranews, 2007).
Perdarahan bertanggung jawab atas 28 persen kematian ibu, salah satu penyebab kematian ibu sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas yang terjadi karena retensio plasenta, sehingga perlu dilakukan upaya penanganan yang baik dan benar yang dapat diwujudkan dengan upaya peningkatan ketrampilan tenaga kesehatan khususnya dalam pertolongan persalinan, peningkatan manajemen Pelayanan Obstetric Neonatal Emergensi Dasar dan Pelayanan Obstetric Neonatal Emergensi Komprehensif, ketersediaan dan keterjangkauan fasilitas kesehatan yang merupakan prioritas dalam pembangunan sektor kesehatan guna pencapaian target MDG’s tersebut.
Rentensio plasenta dapat menyebabkan perdarahan, perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40%-60%) kematian ibu melahirkan di Indonesia. Berdasarkan data kematian ibu yang disebabkan oleh perdarahan pasca persalinan di Indonesia adalah sebesar 43%. Menurut WHO dilaporkan bahwa 15-20% kematian ibu karena retensio plasenta dan insidennya adalah 0,8-1,2% untuk setiap kelahiran. Dibandingkan dengan resiko-resiko lain dari ibu bersalin, perdarahan post partum dimana retensio plasenta salah satu penyebabnya dapat mengancam jiwa dimana ibu dengan perdarahan yang hebat akan cepat meninggal jika tidak mendapat perawatan medis yang tepat (PATH, 2002).
Data WHO menunjukkan sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Rasio kematian ibu di negara-negara berkembang merupakan yang tertinggi dengan 450 kematian ibu per 100 ribu kelahiran bayi hidup jika dibandingkan dengan rasio kematian ibu di sembilan negara maju dan 51 negara persemakmuran (WHO, 2010).
Angka Kematian Ibu di Indonesia masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara anggota ASEAN. Berdasarkan data WHO untuk tahun 2010 Rasio kematian ibu (MMR) selama kehamilan dan melahirkan atau dalam 42 hari setelah melahirkan, per 100.000 kelahiran hidup untuk negara Indonesia sebesar berkisar antara 140-380/100.000 kelahiran hidup sedangkan untuk sesama negara ASEAN seperti Thailand berkisar antara 32-36/100.000 Kelahiran Hidup dan Malaysia 14-68/100.000 kelahiran hidup. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2007 menyebutkan bahwa AKI di Indonesia untuk periode lima tahun sebelum survei (2003-2007) sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2009). 


Angka kematian ibu di Propinsi Lampung berdasarkan Profil Kesehatan Lampung Tahun 2009 adalah sebesar 103 kasus (Dinkes Lampung, 2009), dan untuk AKI di Metro pada tahun 2009 mencapai 167 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes Metro, 2009). Kejadian retensio plasenta di RSU A. Yani Metro untuk tahun 2009 tercatat sebanyak 79 kasus atau 11,93% dari 662 persalinan dan untuk tahun 2010 meningkat menjadi 93 kasus atau 15,89% dari 585 persalinan (RSU. A. Yani Metro, 2010), dimana angka tersebut lebih besar dibandingkan dengan angka kejadian di RS Demang Sepulau Raya untuk tahun 2010 sebesar 10,68% dari 571 Persalinan (RS. DSR, 2010).
Retensio plasenta disebabkan oleh berbagai faktor yaitu faktor maternal seperti paritas dan faktor perlukaan uterus yaitu riwayat retensio plasenta terdahulu serta riwayat endometritis (Oxorn, 2010). Kejadian retensio plasenta juga berkaitan dengan grandemultipara dengan implantansi plasenta dalam bentuk plasenta adhesive, akreta, inkreta dan perkreta serta memerlukan tindakan plasenta manual segera bila terdapat riwayat perdarahan postpartum berulang (Manuaba, 2008). Kejadian retensio plasenta ini juga dapat berkaitan dengan usia ibu yang tidak dalam usia reproduksi yang sehat dimana  wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan  (Prawirohardjo, 2008).
Berdasarkan hasil penelitian Owolabi, dkk. (2008) di Barat Daya Nigeria bahwa terdapat hubungan antara usia dengan retensio plasenta dengan usia ibu 35 tahun atau lebih dengan dengan OR: 7,11, riwayat retensio plasenta sebelumnya dengan OR: 15,22, multiparitas besar dengan OR: 6,63, dan penelitian Dare FO, Oboro VO. (2003) di Obafemi Awolowo University Teaching Hospitals Complex, Ile-Ife, Nigeria dengan hasil bahwa faktor terkait dengan plasenta akreta  yaitu usia ibu minimal 35 tahun dan graviditas.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilaksanakan di BPS Sudilah Ganjar Agung masih ditemukan cukup tingginya kasus ibu bersalin dengan retensio plasenta yaitu pada tahun 2009 sebesar 32 kasus (10,28%) dari 311 persalinan, tahun 2010 sebesar 34 kasus (11,07%) dari 307 persalinan, dan untuk tahun 2011 sampai dengan bulan Desember sudah terdapat 59 kasus (20,55%) dari 287 persalinan dan dari 59 kasus tersebut, 10 ibu dirujuk ke dokter spesialis dan rumah sakit. Kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan BPS Siti Marhamah untuk tahun 2009 terapat 10,52% dari 76 persalinan, tahun 2010 sebesar 10,66% dari 75 persalinan dan tahun 2011 sampai dengan bulan Desember terdapat 6 kasus (12%) dari 50 persalinan

HASILPENELITIAN

  1. Proporsi kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah pada tahun 2011 adalah sebanyak 37 responden (22,16%), dengan usia yang beresiko tinggi sebanyak 23 responden (13,77%), paritas beresiko tinggi (1 atau > 3) sebanyak 58 responden (34,73%) dan dengan riwayat retensio pada persalinan sebelumnya  sebanyak 23 responden (13,77%).
  2. Terdapat hubungan antara usia dengan kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah tahun 2011 dengan nilai  p = 0,003 <   = 0,05 dan OR : 4,160.
  3. Terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah tahun 2011 dengan nilai p = 0,043 <  = 0,05 dan nilai OR: 2,291.
  4. Terdapat hubungan antara riwayat retensio plasenta sebelumnya dengan kejadian retensio plasenta di BPS Sudilah tahun 2011 dengan nilai p = 0,000 >  = 0,05 dan nilai OR: 6,500. 

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA






Gambaran Pengetahuan dan Sikap Ibu tentang Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) di Desa


Di Indonesia sebagian besar pencapaian indikator keluarga sadar gizi belum tercapai sesuai target yaitu 80%. Dampak bila tidak menimbang secara teratur akan tidak terpantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita, bayi yang tidak ASI eksklusif akan berdampak kurangnya kekebalan tubuh bayi dan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi, tidak menggunakan garam beryodium akan berdampak pada penurunan kecerdasan dan gangguan pertumbuhan serta penyakit gondok, tidak makan beraneka ragam akan berdampak kekurangan gizi dan kurangnya suplemen gizi berdampak pada anemia dan rabun senja. Menurun Green dalam Notoatmodjo (2007), perilaku seorang yang berhubungan dengan kesehatan dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu faktor predisposisi (pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan dan motivasi), faktor pendukung (peraturan kesehatan, fasilitas kesehatan), faktor pendorong (sikap, perilaku, petugas kesehatan). Desa Bumi Agung Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran merupakan desa yang terendah cakupan KADARZI nya dibandingkan dengan 8 desa lainnya.
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui gambaran pengetahuan dan sikap ibu tentang Keluarga Sadar Gizi (KADARZI) di Desa Bumi Agung Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran tahun 2012.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode penelitian deskriptif untuk menggambarkan pengetahuan dan sikap ibu tentang Keluarga Sadar Gizi (KADARZI). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu rumah tangga yang ada di Desa Bumi Agung Kecamatan Tegineneng Kabupaten Pesawaran yang berjumlah 954 ibu, sampel sebanyak 282 ibu dengan tehnik pengambilan sistimatik random sampling. Cara ukur yang digunakan dengan metode angket dengan alat ukur berupa lembar kuisioner yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase.
Hasil penelitian ini didapatkan bahwa proporsi pengetahuan ibu tentang keluarga sadar gizi terbanyak dengan pengetahuan yang kurang sebesar 119 ibu (42,20%), dan proporsi sikap ibu tentang keluarga sadar gizi terbanyak dengan sikap yang tidak mendukung sebesar 145 ibu (51, 42%).
Kesimpulan penelitian bahwa pengetahuan ibu tentang KADARZI yang kurang dan sikap yang tidak mendukung. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disarankan untuk meningkatkan upaya promosi kesehatan tentang KADARZI melalui kegiatan kemasyarakatan seperti kegiatan posyandu, pengajian, arisan ibu-ibu, penyebaran leaflet ataupun poster yang berkaitan dengan keluarga sadar gizi

Kata Kunci : Pengetahuan, Sikap, KADARZI
Daftar Bacaan : 15 (2004-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA






Evaluasi Pelaksanaan Kunjungan Nifas pada Ibu Nifas di Wilayah Kerja Puskesmas


Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dalam  menentukan derajat kesehatan masyarakat. Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa  kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60 % kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 20 % kematian masa nifas terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60 % kematian bayi baru lahir terjadi dalam kurun waktu 7 hari setelah lahir. Berdasarkan hasil pra survey yang dilakukan di Puskesmas Batanghari Kabupaten Lampung Timur untuk tahun 2010 cakupan kunjungan ibu nifas sebesar 78,53% dan untuk cakupan kunjungan ibu nifas pada bulan Agustus 2011 untuk Puskesmas Batanghari hanya mencapai 72,53%. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kunjungan ibu nifas di Puskesmas Batanghari Kabupaten Lampung Timur Tahun 2011.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode merupakan penelitian deskriptif untuk menggambarkan hasil evaluasi pelaksanaan kunjungan ibu nifas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bidan yang berjumlah 17 orang bidan dan ibu nifas yang ada yang berjumlah 74 ibu nifas dan keseluruhannya dijadikan sampel penelitian total sampling. Cara ukur yang digunakan dengan angket dengan alat ukur berupa lembar checklist dan kuisioner yang dianalisa secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel masukan meliputi tenaga kesehatan, ada 72,97% lengkap, dalam kunjungan nifas ada 76,48% sarananya lengkap, dan pengguna umur terbanyak yaitu 72,97% usia 20-35 tahun, ada 77,03% multipara, dan pengetahuan diperoleh 43,42% dengan kategori kurang serta sikap diperoleh  56,76% termasuk dalam kategori mendukung. Sedangkan variabel proses 100% mendapat sosialisasi dan kunjungan nifas terlaksana 78,78% selanjutnya variabel keluaran yaitu target pencapaian kunjungan nifas ternyata ada 70,27%. 
Kesimpulan penelitian bahwa secara umum variabel masukan untuk tenaga kesehatan lengkap, sarana baik, sedangkan pengguna umur reproduksi sehat, paritas multipara, pengetahuan kurang dan sikap mendukung, proses sosialisasi baik, pelaksanaan cakupan nifas mencapai 70,27% masih kurang dari target seharusnya. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka diharapkan para bidan untuk lebih aktif dalam upaya pelaksanaan kunjungan nifas.

Kata Kunci : Evaluasi, KunjunganNifas
Daftar Bacaan : 25 (2000-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA






Faktor-Faktor Yang Berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas


Pemberian ASI eksklusif di Puskesmas Sukadana baru mencapai 15,88%, angka ini lebih tinggi dari cakupan pemberian ASI eksklusif Kabupaten Lampung Timur tahun 2010 yaitu 10,54% dan cakupan nasional sebesar 15,3% tetapi masih jauh dari target sebesar 80%. Beberapa faktor yang berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif antara lain: pendidikan, pekerjaan, keadaan payudara dan sosial budaya. Dari hasil studi dokumentasi diperoleh hasil bahwa terdapat beberapa ibu yang tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya.
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Sukadana tahun 2011.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi 7-12 bulan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Sukadana Lampung Timur yang tersebar di 17 desa dengan jumlah 273 bayi dengan jumlah sampel sebanyak 162 orang dengan tehnik pengambilan simple random sampling. Cara ukur yang digunakan dengan dengan metode angket dan alat ukur berupa kuisioner yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase dan bivariat dengan analisi chi square.
Kesimpulan penelitian bahwa proporsi ibu yang memberikan ASI eksklusif sebanyak 48 ibu (29,63%), pendidikan yang rendah sebanyak 70 ibu (43,21%), status bekerja yaitu sebanyak 93 ibu (57,41%), keadaan payudara yang normal sebanyak 85 ibu (52,47%), sosial budaya yang tidak mendukung sebanyak 84 ibu (51,85%), terdapat hubungan antara pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif  dengan p value : 0,000 dan nilai OR : 5,262, terdapat hubungan antara pekerjaan ibu dengan pemberian ASI eksklusif p value : 0,000 dan nilai OR : 4,162, terdapat hubungan antara keadaan payudara ibu dengan pemberian ASI eksklusif p value : 0,000 dan nilai OR : 11,558, dan terdapat hubungan antara sosial budaya dengan pemberian ASI eksklusif p value : 0,000 dan nilai OR : 7,030. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak Puskesmas untuk meningkatkan promosi kesehatan tentang pemberian ASI Eksklusif.

Kata Kunci : ASI Eksklusif, pekerjaan, pendidikan, gangguan payudara, sosial budaya 
Daftar Bacaan : 32 (1997-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA





Hubungan Mobilisasi Dini Dengan Pengeluaran Lochea pada Ibu Nifas di Wilayah Kerja Puskesmas


Menurut data World Health Organization, sebanyak 99 persen kematian ibu akibat masalah persalinan atau kelahiran terjadi di negara-negara berkembang. Kematian ibu maternal dalam masa nifas yang dilaporkan tahun 2007 terdapat total sejumlah 29/100.000 KH, sedangkan angka kejadian untuk Kabupaten Lampung Timur sebesar 4/100.000 KH. Dampak tidak dilakukannya mobilisasi dini adalah menyebabkan  kontraksi uterus yang tidak baik sehingga sisa darah dan placenta tidak dapat keluar dengan baik, involusi uterus yang tidak baik, perdarahan yang abnormal. 
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui hubungan mobilisasi dini dengan pengeluaran lochea dan secara khusus untuk mengetahui proporsi mobilisasi dini dan proporsi pengeluaran lochea pada ibu nifas di wilayah kerja Puskesmas Batanghari. 
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua Ibu nifas hari ke 7 pada bulan Januari di wilayah kerja Puskesmas Batanghari dan sampel diambil menggunakan tehnik accidental sampling yang berjumlah 64 ibu nifas. Cara ukur yang digunakan dengan angket dengan alat ukur berupa lembar checklist yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase dan univariat dengan analisa chi square.
Hasil pengolahan data bahwa proporsi pelaksanaan mobilisasi dini terbanyak adalah ibu nifas yang melakukan mobilisasi dini sebanyak 48 responden (75%), proporsi pengeluaran lochea terbanyak adalah ibu nifas dengan pengeluaran lochea yang sesuai dengan waktunya sebanyak 42 orang (65,62%), dan terdapat 22 orang ibu nifas (34,38%) dengan pengeluaran lochea yang tidak sesuai dengan waktunya, terdapat hubungan antara mobilisasi dini dengan pengeluaran lochea berdasarkan hasil uji statistik diperoleh nilai X2hitung: 7,476 lebih tinggi dari nilai X2tabel : 3,841.
Kesimpulan penelitian bahwa proporsi mobilisasi dini terbanyak adalah melakukan mobilisasi dini dan proporsi pengeluaran lochea terbanyak sesuai dengan waktunya dan terdapat hubungan antara mobilisasi dini dengan pengeluaran lochea di wilayah kerja Puskesmas Batanghari. Berdasarkan hasil tersebut maka diharapkan pada bidan untuk dapat meningkatkan pemberian konseling dan bimbingan kepada ibu bersalin tentang manfaat mobilisasi dini.

Kata Kunci : Mobilisasi Dini, Lochea.
Daftar Bacaan : 23 (1998-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA





Faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Seksual Remaja Pada Siswa SMK


Permasalahan seksualitas yang umum dihadapi oleh remaja adalah dorongan seksual yang sudah meningkat sementara secara normatif mereka yang belum menikah, belum diizinkan untuk melakukan hubungan seksual. Data di Indonesia menurut artikel di website BKKBN menyebutkan bahwa pada tahun 2006 15% remaja usia 10-24 tahun yang jumlahnya sekitar 62 juta jiwa telah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Menurut hasil pra survey yang dilakukan peneliti di SMK Tambah Subur tahun 2009 terjadi 1 kasus KTD dan tahun 2010 terjadi 3 kasus KTD. Faktor yangberhubungan dengan perilaku seksual remaja antara lain: pengetahaun, prestasi belajar dan keterpaparan terhadap sumber informasi
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui fFaktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku seksual remaja pada siswa kelas XI di SMK Tambah Subur Kecamatan Way Bungur tahun 2011.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMK Tambah Subur Kecamatan Way Bungur Kabupaten Lampung Timur yang terdiri dari 4 kelas dengan jumlah siswa 105 siswa. dengan jumlah sampel sebanyak 83 orang dengan tehnik pengambilan simple random sampling. Cara ukur yang digunakan dengan dengan metode angket dan alat ukur berupa kuisioner, dan raport siswa yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase dan bivariat dengan analisi chi square.
Kesimpulan penelitian bahwa proporsi perilaku seksual remaja terbanyak adalah dengan perilaku seksual menyimpang sebanyak 43 siswa (51,81%), proporsi pengetahuan tentang kesehatan reproduksi terbanyak dengan pengetahuan yang kurang baik sebanyak 47 siswa (56,63%), proporsi prestasi belajar terbanyak dengan prestasi belajar yang baik sebanyak 46 siswa (55,42%), proporsi keterpaparan terhadap sumber informasi terbanyak adalah terpapar sumber informasi sebanyak 54 siswa (65,06%), terdapat hubungan pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi   dengan perilaku seksual remaja nilai p value: 0,006, terdapat hubungan prestasi belajar remaja p value 0,000, terdapat hubungan sumber informasi dengan perilaku seksual p value: 0,037. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disarankan bagi pihak sekolah untuk meningkatkan konseling kepada remaja tentang Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dengan bekerjasama dengan tenaga kesehatan melalui kegiatan UKS.

Kata Kunci : Perilaku seksual, pengetahuan, prestasi belajar, sumber informasi 
Daftar Bacaan : 31 (1998-2010)

Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA






Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Ruptur Perineum pada Ibu bersalin di BPS


Penyebab langsung kematian ibu meliputi perdarahan (28%), eklampsia (13%) atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat kehamilan, komplikasi aborsi (11%), infeksi (10%), dan partus lama (9%). Infeksi pada masa nifas yang salah satu penyebab infeksi tersebut berawal dari penatalaksanaan ruptur perineum yang kurang baik. Hasil studi pendahuluan di BPS. Suwarni Sukaraja Nuban Lampung Timur terjadi peningkatan kasus ruptur perineum pada tahun 2009 sebesar 39,55% dan tahun 2011 sebesar 57,75%. Beberapa faktor penyebab terjadinya ruptur perineum antar alain seperti: paritas, bayi besar, dan partus presipitatus. Dampak dari terjadinya ruptur perineum yaitu terjadinya perdarahan dan meningkatnya resiko terjadinya infeksi pada laserasi perineum. 
Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ruptur perineum pada ibu bersalin di BPS Suwarni Sukaraja Nuban Lampung Timur Tahun 2011.
Metode penelitian yang digunakan yaitu metode analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu bersalin di BPS Suwarni pada bulan Januari sampai Desember tahun 2011 berjumlah 138 persalinan. dan sampel diambil menggunakan tehnik total sampling, dengan jumlah 138 persalinan. Cara ukur yang digunakan dengan angket dengan alat ukur berupa lembar checklist yang dianalisa secara univariat dengan tabel persentase dan bivariat dengan analisa chi square.
Hasil pengolahan data bahwa proporsi kejadian ruptur perineum sebanyak 77 orang (55,80%), proporsi kejadian partus presipitatus sebanyak 17 orang (12,32%), proporsi paritas sebanyak 61 orang ibu (44,20%) dengan paritas yang beresiko (primipara), proporsi berat badan bayi lahir terdapat 22 orang ibu (15,94%) dengan berat bayi lahir beresiko  atau > 3.500 gr. Hasil uji statistik terdapat  hubungan antara partus presipitatus dan kejadian ruptur perineum dengan p value: 0,002, terdapat hubungan antara paritas dengan kejadian ruptur perineum dengan p value: 0,026, terdapat hubungan antara berat badan bayi dengan kejadian ruptur perineum ddengan p value: 0,048
Kesimpulan penelitian bahwa terdapat hubungan antara partus presipitatus, paritas dan berat badan bayi lahir dengan kejadian ruptur perineum di BPS Suwarni Sukaraja Nuban Lampung Timur Tahun 2011. Berdasarkan hasil tersebut maka bagi pihak BPS untuk memberikan pengawasan kala I yang adekuat, pelayanan sejak pada masa kehamilan berupa anjuran untuk mengikuti kelas ibu, senam hamil dan ANC teratur.

Kata Kunci : Ruptur perineum, partus presipitatus, paritas, berat bayi lahir
Daftar Bacaan : 23 (2000-2010)


Anda tertarik Untuk melakukan penelitian yang sama dengan penelitian di atas
ANDA DAPAT MEMILIKI KESELURUHAN ISI KTI : PESAN SEKARANG JUGA


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Fans Page