Judul KTI

Ads 468x60px

07 November, 2012

Paket Jasa Pembuatan KTI-SKRIPSI Online

PAKET PEMBUATAN KARYA TULIS ILMIAH SKRIPSI
“BASCOM METRO”


Paket
Layanan  Jasa
Produk
Paket
A
Rp. 100.000,-
Karya Tulis Ilmiah/Skripsi lengkap proposal + hasil penelitian yang sudah jadi sesuai dengan daftar judul yang telah disediakan

CD data KTI/Skripsi Lengkap
Untuk data berupa soft copy atau kirim via email hanya Rp. 50.000,-
Paket
B
300.000,-
Pembuatan Proposal KTI/Skripsi dengan judul baru sesuai dengan keinginan pemesan lengkap dari awal sampai dengan lampiran dengan konsultasi awal (1 kali saat penyerahan) tanpa konsultasi lanjutan
·         Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
·         Referensi selain buku (internet, jurnal, dll disediakan)

  •  CD data Proposal Lengkap
  • Hardcopy (print out) Proposal lengkap (1 kali  saat penyerahan awal)
  • Print out sumber dari internet + jurnal

Paket
C
Rp. 500.000,-
Pembuatan Proposal KTI/Skripsi dengan judul baru sesuai dengan keinginan pemesan lengkap dari awal sampai lampiran dengan + konsultasi sampai dengan proposal ACC sidang
·         Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
·         Referensi selain buku (internet, jurnal, dll disediakan)

·         CD data Proposal  Lengkap
·         Hardcopy proposal (print out) 1 kali saat penyerahan awal selanjutnya jika terdapat perbaikan dicetak sendiri
·         Print out sumber dari internet + jurnal
Paket
D
Rp. 750.000,-
Pembuatan Proposal KTI/Skripsi dengan judul baru sesuai dengan keinginan pemesan lengkap dari awal sampai lampiran dengan + konsultasi sampai dengan proposal ACC sidang
· Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
· Referensi selain buku (internet, jurnal, dll disediakan)
·         CD data Proposal  Lengkap
·         Hardcopy proposal (print out) sampai dengan ACC sidang tidak terbatas sesuai dengan proses konsultasi
·         Print out sumber dari internet + jurnal
Paket
E
Rp. 400.000,-
Pembuatan hasil penelitian KTI/Skripsi dengan judul baru sesuai dengan keinginan pemesan, lengkap dari awal sampai dengan lampiran dengan konsultasi awal (1 kali saat penyerahan) tanpa konsultasi lanjutan
(Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
· Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
·Referensi selain buku (internet, jurnal, dll disediakan)
·         CD data Hasil penelitian Lengkap
·         Hardcopy (print out) hasil penelitian lengkap 1 kali saat penyerahan awal
·         Print out sumber dari internet + jurnal
Paket
F
Rp. 500.000,-
Pembuatan hasil penelitian KTI/Skripsi dengan judul baru sesuai dengan keinginan pemesan, lengkap dari awal sampai dengan lampiran + konsultasi sampai dengan proposal ACC sidang

(Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
·         Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
·         Referensi selain buku (internet, jurnal, dll disediakan)

·         CD data hasil penelitian Lengkap
·         Hardcopy proposal (print out) 1 kali saat penyerahan awal selanjutnya dicetak sendiri
·         Print out sumber dari internet + jurnal
Paket
G
Rp. 750.000,-
Pembuatan Hasil penelitian KTI/Skripsi dengan judul baru sesuai dengan keinginan pemesan, lengkap dari awal sampai dengan lampiran + konsultasi sampai dengan proposal ACC sidang
(Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan penesan)
·         Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
·         Referensi selain buku (internet, jurnal, dll disediakan)

·         CD data Hasil penelitian  Lengkap
·         Hardcopy hasil penelitian (print out) sampai dengan ACC sidang tidak terbatas sesuai dengan proses konsultasi
·         Print out sumber dari internet + jurnal
Paket
FULL
Rp. 1.500.000,-
Untuk KTI

Rp. 2.000.000,-
Untuk Skripsi
Pembuatan KTI/Skripsi lengkap (proposal dan hasil penelitian) dengan judul baru sesuai dengan keinginan pemesan, lengkap dari awal sampai dengan lampiran dengan konsultasi sampai dengan selesai atau ACC sidang
·         Referensi buku terima jadi atau dengan referensi sesuai keinginan pemesan*)
·         Referensi selain buku (internet, jurnal, dll disediakan)

·         CD data KTI/Skripsi Lengkap
·         Hardcopy (print out) KTI/Skripsi disediakan sesuai dengan hasil konsultasi sampai dengan selesai
·         Konsultasi perbaikan dan pencetakan hasil tidak dibatasi sampai dengan ACC Jilid
·         Print out sumber dari internet + jurnal

Paket
H
Rp. 300.000,-
Jasa konsultasi pembuatan proposal dan skripsi sampai dengan selesai 
·         Konsultasi penyusunan dan perbaikan tanpa print out (perbaikan dikerjakan sendiri oleh pemesan)

Paket
I
Rp. 300.000,-
Jasa edit pengetikan KTI/Skripsi sesuai dengan standar kampus tepat kuliah masing-masing pemesan
·         CD data KTI/Skripsi Lengkap
·         Hardcopy (print out) KTI/Skripsi 1 kali
Paket
HI
Rp. 500.000,-
·   Jasa konsultasi pembuatan proposal dan hasil penelitian sampai dengan selesai 
·     Jasa edit pengetikan KTI sesuai dengan standar kampus tepat kuliah masing-masing pemesan
·         Konsultasi penyusunan dan perbaikan
·         Edit pengetikan + print out 1 kali (jika masih terdapat perbaikan tetap mendapatkan jasa konsultasi namun perbaikan dan print out selanjutnya dikerjakan sendiri)
·         CD data KTI/Skripsi Lengkap

PILIH SESUAI DENGAN KEINGINAN ANDA
*   Buku referensi disesuaikan dengan keinginan pemesan sesuai dengan buka yang dimiliki pemesan, kami tidak menyediakan atau menjual buku referensi.

JIKA ANDA BERMINAT MENGGUNAKAN JASA KAMI SILAHKAN KLIK TOMBOL "PESAN KTI" DIBAWAH INI


01 November, 2012

Judul KTI-Skripsi Kesehatan Analitik



  1. EFEKTIFITAS PENGGUNAAN MISOPROSTOL DAN OKSITOSIN PADA PENANGANAN PERDARAHAN POST PARTUM
  2. FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT INFEKSI PADA ANAK BALITA
  3. FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU MEMILIH PENOLONG PERSALINAN 
  4. FAKTOR- FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA-EKLAMSIA PADA IBU HAMIL DI RS
  5. FAKTOR- FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEIKUTSERTAAN WANITA PASANGAN USIA SUBUR DALAM PENGGUNAAN KB IUD
  6. FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI DAN TIDAK MEMILIH ALAT KONTRASEPSI VASEKTOMI (ANALISIS KUALITATIF)
  7. FAKTOR PENYEBAB SUAMI MEMILIH KONDOM DAN TIDAK MEMILIH KONDOM (ANALISIS KUALITATIF)
  8. FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PLASENTA PREVIA PADA IBU BERSALIN
  9. FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI PUSKESMAS  
  10. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS (ISPA) PADA BALITA
  11. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN APN OLEH BIDAN DI PUSKESMAS
  12. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI DAN PASI PADA IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0-6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  13. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA
  14. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSALINAN OLEH DUKUN TERLATIH
  15. FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA ANEMIA PADA IBU HAMIL
  16. FAKTOR-FAKTOR ALASAN IBU MENGGANTI KONTRASEPSI PIL DENGAN KONTRASEPSI SUNTIK DI PUSKESMAS 
  17. FAKTOR-FAKTOR NON FISIK SULIT MAKAN PADA BALITA DI PAUD XXXXXX
  18. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB GANGGUAN PEMBERIAN ASI PADA IBU DI DESA
  19. FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB RENDAHNYA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA DI BAWAH 6 BULAN DI KELURAHAN 
  20. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL YANG KE-EMPAT (K4) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  21. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA KUNJUNGAN BALITA DI POSYANDU
  22. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA KUNJUNGAN BALITA DI POSYANDU
  23. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA KUNJUNGAN IBU NIFAS DI PUSKESMAS 
  24. FAKTOR-FAKTOR RENDAHNYA PENGGUNAAN IMPLANT DI KELURAHAN 
  25. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DALAM MELAKUKAN HUBUNGAN SEKS PADA IBU HAMIL 
  26. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN AKTIVITAS SEKS REMAJA DI SMA 
  27. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEIKUTSERTAAN LANSIA DALAM POSYANDU LANSIA DI DESA 
  28. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX
  29. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI SMP
  30. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI 
  31. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI 
  32. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA 
  33. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN GIZI KURANG DI 
  34. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN IKTERUS PADA NEONATUS DI RSUD
  35. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KANKER SERVIKS DI RS 
  36. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PRETERM DI RSU
  37. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN RETENSIO PLASENTA PADA IBU BERSALIN
  38. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN RETENSIO PLASENTA PADA IBU BERSALIN DI BPS  
  39. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN RUPTUR PERINEUM PADA IBU BERSALIN DI BPS    
  40. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PARTUS LAMA DI RS 
  41. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS  
  42. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN KOLOSTRUM PADA BAYI BARU LAHIR
  43. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN SUSU FORMULA PADA BAYI 0-6 BULAN DI BPS 
  44. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA IBU NIFAS 
  45. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENURUNAN SEKSUAL PADA IBU MENOPAUSE DI DESA XXX
  46. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENYEBAB TERJADINYA PERDARAHAN POST PARTUM DI RS
  47. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN KADER DALAM KEGIATAN POSYANDU 
  48. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU MENYUSUI BAYI USIA 6-12 BULAN 
  49. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA SMK
  50. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN STATUS IMUNISASI DIFTERI PERTUSIS TETANUS (DPT) DAN CAMPAK 
  51. FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN WANITA PRE MENOPAUSE DI DESA XXX
  52. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HUBUNGAN SEKS PASCA NIFAS DI DESA XXX
  53. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) DINI PADA BAYI 6-24 BULAN
  54. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MELAKUKAN PIJAT BAYI (ANALISA KUALITATIF)
  55. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU MEMBERIKAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI USIA KURANG DARI ENAM BULAN
  56. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU TIDAK MEMBERIKAN ASI EKSLUSIF KEPADA BAYINYA *)
  57. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEAKTIFAN KADER POSYANDU DALAM USAHA PERBAIKAN GIZI KELUARGA
  58. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMPLIKASI PERSALINAN USIA REMAJA DI PUSKESMAS XXX
  59. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT IBU TERHADAP PEMAKAIAN KONTRASEPSI IMPLANT DI DESA XXX
  60. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI PADA BAYI KURANG DARI 6 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  61. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAWATAN DIRI IBU PASCASALIN DI RUMAH SAKIT
  62. FAKTOR–FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA AKSEPTOR IUD DI DESA 
  63. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA CAKUPAN AKSEPTOR BARU KELUARGA BERENCANA ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM DI PUSKESMAS
  64. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA KEIKUTSERTAAN SUAMI MENJADI AKSEPTOR KELUARGA BERENCANA (KB) DI DESA
  65. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RENDAHNYA KONSUMSI TABLET FE PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  66. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA PRE MENSTRUAL SYNDROM (PMS) PADA WANITA USIA 25-35 TAHUN DI KAMPUNG 
  67. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TIDAK TERATURNYA SIKLUS MENSTRUASI PADA MAHASISWA 
  68. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RSUD
  69. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN KURANGNYA AKSEPTOR KB KONDOM DI PUSKESMAS
  70. FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN TERJADINYA MASTITIS PADA IBU POSTPARTUM DI BPS
  71. HUBUNGAN  PENGGUNAAN BUKU KIA DENGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KESEHATAN IBU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  72. HUBUNGAN ANEMIA DAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS (KEK)PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DI PUSKESMAS
  73. HUBUNGAN ANEMIA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM PADA IBU BERSALIN
  74. HUBUNGAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS DI RS
  75. HUBUNGAN ANTARA KEPUTIHAN DENGAN PERSONAL HIGIENE PADA REMAJA PUTRI KELAS X DI SMU 
  76. HUBUNGAN ANTARA KEPUTIHAN DENGAN PERSONAL HIGIENE PADA REMAJA PUTRI
  77. HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PRETERM PADA IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT UMUM
  78. HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN RIWAYAT ABORTUS DENGAN KEJADIAN ABORTUS PADA IBU HAMIL
  79. HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN RIWAYAT KURETASE DENGAN KEJADIAN RETENSIO PLASENTA PADA IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT UMUM
  80. HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN USIA IBU DENGAN PLASENTA PREVIA DI RSUD 
  81. HUBUNGAN ANTARA PARITAS DAN USIA IBU DENGAN PLASENTA PREVIA DI RS
  82. HUBUNGAN ANTARA PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEPATUHAN DALAM MELAKUKAN IMUNISASI TT 
  83. HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN SUSU FORMULA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI UMUR 0 – 6 BULAN DI PUSKESMAS
  84. HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN SUSU FORMULA DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BAYI UMUR 0–6 BULAN
  85. HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN VAKSINASI BCG DENGAN KEJADIAN PENYAKIT TB PADA ANAK USIA < 15 TAHUN  
  86. HUBUNGAN ANTARA PENDIDIKAN DAN PEKERJAAN DENGAN KEJADIAN PRE EKLAMPSI PADA IBU BERSALIN DI RUMAH SAKIT 
  87. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL DI PKM   
  88. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN
  89. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG GIZI DENGAN STATUS GIZI BALITA DI KELURAHAN XXX
  90. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KADER POSYANDU TENTANG PERAN DAN TUGAS DENGAN RENDAHNYA CAKUPAN IMUNISASI BAYI DI KAMPUNG 
  91. HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN KADER POSYANDU TENTANG PERAN DAN TUGAS DENGAN RENDAHNYA CAKUPAN IMUNISASI BAYI
  92. HUBUNGAN ANTARA PERSONAL HYGIENE DENGAN KEPUTIHAN PADA REMAJA PUTRI KELAS X DAN XI DI SMA XXX
  93. HUBUNGAN ANTARA POST NATAL BREAST CARE DENGAN BENDUNGAN ASI
  94. HUBUNGAN ANTARA POST NATAL BREAST CARE DENGAN BENDUNGAN ASI DI BPS WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  95. HUBUNGAN ANTARA PRE EKLAMPSIA-EKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN INTRA UTERIN FETAL DEATH
  96. HUBUNGAN ANTARA SISA PLASENTA DAN RIWAYAT PERDARAHAN POST PARTUM DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM PADA IBU NIFAS DI RS
  97. HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN MENARCHE PADA SISWI XXX 
  98. HUBUNGAN ANTARA STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA ADOLESCENCE
  99. HUBUNGAN ANTARA STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI PADA WANITA ADOLESCENCE
  100. HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  101. HUBUNGAN ANTARA SUAMI PEROKOK DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)
  102. HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN, UMUR DAN PARITAS IBU NIFAS DENGAN PELAKSANAAN KUNJUNGAN NIFAS TERBARU)
  103. HUBUNGAN ANTARA UMUR DAN PARITAS IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN ANTEPARTUM DI RS XXXX 
  104. HUBUNGAN ANTARA USIA IBU, PARITAS DAN PEKERJAAN IBU DENGAN KEJADIAN ABORTUS INCOMPLETUS
  105. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DAN STATUS IMUNISASI DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT (ISPA) PADA BALITA DI PUSKESMAS 
  106. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DENGAN RUPTURE PERINEUM PERSALINAN NORMAL PADA PRIMIGRAVIDA DI BPS XXX
  107. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR 
  108. HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN: TEMPAT TINGGAL, TEMAN SEBAYA DAN ORANG TUA DENGAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA PSIKOTOPRIKA ZAT ADIKTIF LAINNYA (NAPZA) PADA REMAJA DI SMA 
  109. HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSI-EKLAMSI PADA IBU HAMIL DI RS
  110. HUBUNGAN HIPERTENSI GESTASIONAL DENGAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR DI RUANG KEBIDANAN 
  111. HUBUNGAN HIPERTENSI GESTASIONAL DENGAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR
  112. HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH TERHADAP USIA MENARHE PADA SISWI SMP
  113. HUBUNGAN INDUKSI OKSITOSIN DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI PADA IBU BERSALIN YANG MENGALAMI PERDARAHAN POST PARTUM DI RS
  114. HUBUNGAN INDUKSI OKSITOSIN DAN UMUR IBU DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI PADA IBU BERSALIN
  115. HUBUNGAN INDUKSI OKSITOSIN DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI PADA IBU BERSALIN YANG MENGALAMI PERDARAHAN POST PARTUM
  116. HUBUNGAN JARAK KEHAMILAN DAN KEPATUHAN MENGKONSUMSI TABLET Fe DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL 
  117. HUBUNGAN JARAK KEHAMILAN DAN PEKERJAAN IBU DENGAN KEJADIAN ABORTUS DI RUMAH SAKIT UMUM 
  118. HUBUNGAN KADAR HEMOGLOBIN IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN BAYI BARU LAHIR
  119. HUBUNGAN KEAKTIFAN KADER POSYANDU DENGAN KUNJUNGAN IBU BAYI DAN BALITA DI POSYANDU DI DESA
  120. HUBUNGAN KEBERADAAN ANGGOTA KELUARGA YANG MEROKOK DAN STATUS GIZI BALITA DENGAN KEJADIAN ISPA
  121. HUBUNGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DENGAN STATUS PEMBERIAN VITAMIN A DI POLIKLINIK ANAK RS
  122. HUBUNGAN KENAIKAN BERAT BADAN IBU HAMIL DENGAN BERAT BADAN BAYI LAHIR
  123. HUBUNGAN LAMANYA PEMAKAIAN ALAT KONTRASEPSI SUNTIK DENGAN PERUBAHAN BERAT BADAN DI KECAMATAN 
  124. HUBUNGAN LINGKAR LENGAN ATAS IBU HAMIL DENGAN BERAT BAYI LAHIR DI PUSKESMAS
  125. HUBUNGAN LUKA JAHITAN PERINEUM TERHADAP HUBUNGAN SEKS PASCA NIFAS DI DESA XXX
  126. HUBUNGAN MOBILISASI DINI DENGAN PENGELUARAN LOCHEA PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS   
  127. HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASKEB II PADA MAHASISWA SEMESTER II D III AKADEMI KEBIDANAN 
  128. HUBUNGAN PARITAS DAN ANEMIA KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN BERAT BAYI LAHIR RENDAH DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  129. HUBUNGAN PARTUS LAMA DAN KETUBAN PECAH DINI DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM PADA BAYI BARU LAHIR DI RS
  130. HUBUNGAN PARTUS PRESIPITATUS DAN PARITAS DENGAN ATONIA UTERI PADA IBU BERSALIN
  131. HUBUNGAN PELATIHAN DAN SIKAP BIDAN DALAM PERTOLONGAN PERSALINAN DENGAN KETRAMPILAN ASUHAN PERSALINAN NORMAL DI PUSKESMAS 
  132. HUBUNGAN PEMBERIAN ASI  DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BAYI DI PUSKESMAS 
  133. HUBUNGAN PEMBERIAN MAGNESIUM SULFAT DENGAN KEJADIAN ATONIA UTERI PADA IBU BERSALIN YANG MENGALAMI PRE EKLAMSIA-EKLAMPSIA
  134. HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI  SECARA  DINI  DENGAN KEJADIAN OBSTIPASI PADA BAYI 0-6 BULAN DI DESA 
  135. HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI SECARA DINI DENGAN KEJADIAN OBSTIPASI PADA BAYI 0-6 BULAN
  136. HUBUNGAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN TERHADAP PERAN KADER DALAM PROGRAM PENANGGULANGAN GIZI BALITA BGM DI PUSKESMAS
  137. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN INFORMASI TENTANG METODE KONTRASEPSI MANTAP PRIA TERHADAP PERAN SERTA SUAMI DALAM GERAKAN KB DI KELURAHAN XXX.
  138. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP  REMAJA PUTRI KELAS X DAN XI DENGAN PERILAKU PEMERIKSAAN PAYUDARA SENDIRI (SADARI) 
  139. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP AKSEPTOR KB AKTIF DENGAN PENGGUNAAN AKDR 
  140. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BALITA TENTANG KELUARGA SADAR GIZI (KADARZI) DENGAN STATUS GIZI BALITA 
  141. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU BATITA DENGAN CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK DI PUSKESMAS 
  142. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU DENGAN PERILAKU KELUARGA SADAR GIZI (KADARZI)
  143. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TERHADAP KEIKUTSERTAAN DALAM KELAS IBU 
  144. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU POST PARTUM DENGAN INISIASI MENYUSU DINI DI RSUD 
  145. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU POST PARTUM TERHADAP PEMBERIAN KOLOSTRUM DI BPS
  146. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP KADER TENTANG POSYANDU DENGAN PERAN SERTA KADER POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  147. HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG ANEMIA DENGAN KONSUMSI TABLET FE PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  148. HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG MUAL MUNTAH PADA KEHAMIILAN
  149. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN PELAKSANAAN INISIASI MENYUSUI DINI PADA IBU POST PARTUM 
  150. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI 
  151. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA 
  152. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA XXX
  153. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG BUKU KIA DENGAN PEMANFAATAN LAYANAN KIA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  154. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS DENGAN KUNJUNGAN MASA NIFAS DI PUSKESMAS XXX
  155. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG KOLOSTRUM TERHADAP PEMBERIAN KOLOSTRUM 
  156. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG CARA MENYUSUI DENGAN KEBERHASILAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU PRIMIPARA DIWILAYAH KERJA PUSKESMAS
  157. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATANNYA DALAM BERSALIN DI DESA 
  158. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMANTAUAN PERTUMBUHAN BALITA DENGAN STATUS GIZI BALITA DI POSYANDU  
  159. HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA DENGAN KEHAMILAN REMAJA 
  160. HUBUNGAN PENGETAHUAN REMAJA TENTANG INFEKSI MENULAR SEKSUAL DENGAN PERILAKU SEKSUAL 
  161. HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG GIZI IBU HAMIL DENGAN ANEMIA 
  162. HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG MENARCHE DENGAN SIKAP REMAJA DALAM MENGHADAPI MENARCHE DI SD
  163. HUBUNGAN PENGETAHUAN, TINGKAT PENDIDIKAN DAN KUNJUNGAN NIFAS DENGAN KONSUMSI VITAMIN A PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
  164. HUBUNGAN PENGGUNAAN BUKU KIA DENGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG KESEHATAN IBU
  165. HUBUNGAN PERDARAHAN ANTEPARTUM DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR
  166. HUBUNGAN PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA DENGAN PRESTASI BELAJAR DI SMK 
  167. HUBUNGAN PERSALINAN SUNGSANG DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM
  168. HUBUNGAN PERTAMBAHAN BERAT BADAN IBU SAAT HAMIL DENGAN BERAT BAYI LAHIR
  169. HUBUNGAN POLA ASUH DAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  170. HUBUNGAN POLA ASUH IBU DENGAN STATUS GIZI ANAK BALITA 
  171. HUBUNGAN PRE EKLAMPSIA BERAT DENGAN KEJADIAN SECSIO CESAREA PADA IBU BERSALIN
  172. HUBUNGAN PRE EKLAMPSIA DAN SISA PLASENTA DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM
  173. HUBUNGAN PRESTASI BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN II DENGAN PENCAPAIAN KOMPETENSI MAHASISWA SEMESTER III DALAM PRAKTEK ASUHAN PERSALINAN KALA II 
  174. HUBUNGAN RIWAYAT KEHAMILAN EKTOPIK TERHADAP KEJADIAN KEHAMILAN EKTOPIK PADA IBU BERSALIN
  175. HUBUNGAN RIWAYAT SEKSIO SESAREA DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN RETENSIO PLASENTA 
  176. HUBUNGAN SEKSIO SESAREA DAN KELAHIRAN PREMATUR DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM DI RS
  177. HUBUNGAN STATUS GIZI DAN RIWAYAT DISMENORE PADA KELUARGA DENGAN KEJADIAN DISMENORE 
  178. HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI PUSKESMAS 
  179. HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PRESTASI BELAJAR ANAK DI TAMAN KANAK – KANAK 
  180. HUBUNGAN STATUS GIZI DENGAN PRESTASI BELAJAR ANAK DI TAMAN KANAK–KANAK
  181. HUBUNGAN STRES DENGAN GANGGUAN SIKLUS MENSTRUASI TERHADAP MAHASISWA TINGKAT I AKBID XXX
  182. HUBUNGAN TINGKAT EKONOMI KADER DENGAN PERAN SERTA KADER POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS 
  183. HUBUNGAN TINGKAT KEPARAHAN ISPA DENGAN STATUS GIZI BALITA
  184. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP PEMBERIAN MP-ASI DINI 
  185. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA
  186. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN POLA MAKAN DENGAN STATUS GIZI BALITA 
  187. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA DENGAN PERTUMBUHAN FISIK BALITA 
  188. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA KADER DENGAN PERAN SERTA KADER POSYANDU
  189. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA KADER DENGAN PERAN SERTA KADER POSYANDU
  190. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP BIDAN PRAKTEK SWASTA TENTANG RAWAT GABUNG
  191. HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DAN TINGKAT EKONOMI KELUARGA DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA BALITA DI RS
  192. HUBUNGAN UMUR DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POST PARTUM PADA IBU BERSALIN
  193. HUBUNGAN UMUR KEHAMILAN DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN BBLR 
  194. HUBUNGAN USIA DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN TERJADINYA PRE MENSTRUAL SYNDROM PADA WANITA USIA SUBUR
  195. HUBUNGAN USIA DAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DENGAN KEJADIAN ABORTUS
  196. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS DENGAN KANKER SERVIKS PADA WANITA DI RSU
  197. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN INTRA UTERINE FETAL DEATH DI RS
  198. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU DENGAN PLASENTA PREVIA
  199. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS IBU TERHADAP KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI RS. XXX
  200. HUBUNGAN USIA DAN PARITAS PADA IBU BERSALIN DENGAN KEHAMILAN SEROTINUS DI RS
  201. HUBUNGAN USIA DAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN PERDARAHAN POSTPARTUM DI RS
  202. HUBUNGAN USIA DAN RIWAYAT ABORTUS DENGAN KEJADIAN PARTUS PREMATUR DI RUMAH SAKIT 
  203. HUBUNGAN USIA GESTASI DAN APGAR SKOR DENGAN KEMATIAN NEONATAL BERAT BADAN LAHIR RENDAH 
  204. HUBUNGAN USIA IBU BERSALIN DAN PREEKLAMPSI DALAM KEHAMILAN DENGAN KEJADIAN BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI KLINIK
  205. HUBUNGAN USIA IBU DAN RIWAYAT ABORTUS DENGAN KEJADIAN ABORTUS INCOMPLETUS DI RSB
  206. HUBUNGAN USIA IBU HAMIL DAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA DI PUSKESMAS 
  207. HUBUNGAN USIA KEHAMILAN DAN PARITAS DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS 
  208. HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN PENGETAHUAN IBU BERSALIN DENGAN PERSALINAN SEKSIO SESAREA DI KLINIK
  209. HUBUNGAN USIA, PARITAS DAN PENGETAHUAN IBU BERSALIN DENGAN PERSALINAN SEKSIO SESAREA  
  210. PERBEDAAN POSISI MIRING DAN SETENGAH DUDUK PADA IBU BERSALIN TERHADAP PERCEPATAN PERSALINAN KALA II DI BPS 
  211. PERBEDAAN TEKNIK KOMPRES HANGAT DAN TEKNIK MASASE UNTUK MENGURANGI NYERI PERSALINAN KALA I DI BPS


Teori Motivasi


A. DEFINISI
Motivasi berasal dari bahasa Latin yang berarti to move. Secara umum mengacu pada adanya kekuatan dorongan yang menggerakkan kita untuk berperilaku tertentu. Oleh karena itu, dalam mempelajari motivasi kita akan berhubungan dengan hasrat, keinginan, dorongan dan tujuan. Di dalam konsep motivasi kita juga akan mempelajari sekelompok fenomena yang mempengaruhi sifat, kekuatan dan ketetapan dari tingkah laku manusia (Quinn,1995).
Dalam bukunya tentang bagaimana memotivasi perilaku sehat, John Elder (et. al) 1998 mendefinisikan motivasi sebagai: interaksi antara perlaku dan lingkungan sehingga dapat mening¬katkan, menurunkan atau mempertahankan perilaku. Definisi ini lebih menekankan pada hal-hal yang dapat diobservasi dari proses motivasi.

B. BERBAGAI PENDEKATAN DALAM MEMPELAJARI MOTIVASI
1. Pendekatan Instink
Pada awalnya motivasi dipelajari dengan mempelajari instink. Instink adalah pola perilaku yang kita bawa sejak lahir yang secara biologis diturunkan. Beberapa instink yang mendasar adalah instink untuk menyelamatkan diri dan instink untuk hidup. Seks adalah salah satu 

2. Pendekatan Pemuasan Kebutuhan (Drive-Reduction)
Teori yang menekankan pada apa yang menarik seseorang untuk berperilaku atau drive theory ini menjelaskan motivasi dalam suatu gerak sirkuler. Manu¬sia terdorong untuk berperilaku tertentu guna mencapai tujuannya sehingga tercapailah keseimbangan. Dengan demikian teori ini merupakan teori yang berusaha men¬jelaskan apa yang menarik seseorang untuk berperilaku tertentu atau disebut juga sebagai push theory.

3. Pendekatan Insentif
Berlawanan dengan teori dorongan yang memfo¬kuskan diri pada apa yang mendorong seseorang untuk berperilaku tertentu, maka push theory lebih tertarik untuk mempelajari apa yang dapat menarik seseorang untuk melakukan perilaku tertentu. Insentif merupakan stimulus yang menarik seseorang untuk melakukan se¬suatu karena dengan melakukan perilaku tersebut, maka kita akan mendapatkan imbalan. Imbalan yang menarik bagi kita tentu saja adalah imbalan yang mendatangkan sesuatu yang menyenangkan. Dalam hal ini, insentif merupakan tujuan yang ingin dicapai. Dalam contoh ibu Parmi yang membawa balitanya ke Posyandu, maka makanan tambahan merupakan insentif baginya selain untuk menjaga kesehatan balitanya.

4. Pendekatan Arousal
Pendekatan ini mencari jawaban atas tingkah laku di mana tujuan dari perilaku ini adalah untuk memelihara atau meningkatkan rasa ketegang-an. Teori ini disebut juga sebagai oponen-proses. Pandangan hedonistik mengatakan bahwa manusia selalu mencari kenikmatan atau hal-hal yang membuatnya merasa senang dan menghindari hal¬hal yang tidak menyenangkan.

5. Pendekatan Kognitif
Pedekatan kognitif ini menjelaskan, bahwa motivasi adalah merupakan produk dari pikiran, harapan dan tujuan seseorang, Feldman (2003). Dalam pendekatan ini dibedakan antara motif intrinsik atau motif yang berasal dari dalam diri, dengan motif ekstrinsik atau motif yang dari luar diri.

Motif intrinsik akan mendorong kita untuk melaku¬kan sesuatu aktivitas guna memenuhi kesenangan kita dan bukan karena ingin mendapatkan pujian. Misalnya, seorang bidan di desa yang dengan rela hati membantu masyarakat setempat walaupun desa tempat tinggalnya adalah desa yang terpencil dan miskin. Ia melakukan hal ini bukan karena ingin mendapatkan pujian atau penghargaan, namun karena ia memang senang menolong masyarakat di desa yang terpencil. Motif yang mendasari perilaku bidan ini adalah motif intrinsif, namun jika karena ia ingin memperoleh penghargaan sebagai bidan teladan, maka motif ektrinsiklah yang mendasari perilaku bidan ini.

TEORI MOTIVASI
Ada dua aliran teori motivasi, yaitu motivasi yang dikaji dengan mempelajari kebutuhan-kebutuhan, atau content theory, dan ada yang mengkaji dengan mempelajari prosesnya atau disebut sebagai process theory (Wood et all, 1998). Content Theory: Teori-teori ini mengajukan cara untuk menganalisis kebutuhan yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku tertentu, sedangkan prosecess theory berusaha-memahami proses berpikir yang ada yang dapat mendorong seseorang untuk berperilaku tertentu.

Teori Kebutuhan
Salah satu teori kebutuhan yang terkenal adalah teori kebutuhan berhierarki dari Maslow. Dalam teori ini Maslow menyusun kebutuhan manusia secara berhierarki. Maslow membagi dua kategori besar, yaitu kebutuhan tingkat dasar dan tingkat tinggi. Kebutuhan tingkat dasar adalah kebutuhan yang dapat dipuaskan dari luar, misalnya kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman. Sedangkan kebutuhan tingkat tinggi adalah kebutuhan yang hanya dapat dipuaskan dari dalam diri orang yang bersangkutan, misalnya kebutuhan akan penghargaan dan aktualisasi diri. Sebelum kebutuhan yang paling rendah terpenuhi, maka tidak akan muncul kebutuhan pada tingkat berikutnya.

Teori Kebutuhan Berhierarki dari Maslow
kebutuhan untuk diakui oleh lingkungannya. Kebutuhan yang paling tinggi adalah kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang paling sulit untuk dipenuhi. Aktualisasi diri adalah kondisi di mana seseorang merasa telah mumpuni, yaitu perasaan bahwa is telah memahami potensi dirinya dan telah mengembangkannya dengan cara yang unik. Kebutuhan ini merupakan motif intrinsik yang tertinggi dan tersulit untuk dipenuhi.
Dengan menggunakan teori Maslow, kita dapat menelaah
  sejauh mana kebutuhan rakyat Indonesia telah terpenuhi secara umum. Pada pemenuhan kebutuhan tingkat yang mana jika kita memperjuangkan jaminan kesehatan bagi masyarakat miskin?
Teori ini dalam perkembangannya mengalami banyak kritik. Misalnya, teori ini gagal menjelaskan mengapa ada istilah biar miskin asal sombong? Apakah benar jika kebutuhan fisiologis belum terpenuhi maka kebutuhan selanjutnya belum dapat muncul? Di mana letak kebutuhan untuk hidup sehat dalam hierarki Maslow? Bagaimana menjelaskan bahwa perilaku hidup sehat itu didasari oleh berbagai kebutuhan tersebut secara bersamaan?

JENIS MOTIVASI
Dalam mempelajari motivasi, kita dapat membagi dua jenis motif, yaitu motif biologis dan motif sosial. Motif biologis adalah motif yang tidak kita pelajari dan sudah ada sejak kita lahir, misalnya rasa lapar, haus dan seks. Sedangkan motif sosial ada¬lah motif yang kita pelajari, atau tidak kita bawa sejak lahir, misalnya motif untuk mendapailfan penghargaan, motif untuk berkuasa.

1. Motif Biologis
Motif biologis ini bersumber dari keadaan fisiologis dari tubuh manusia. Berbagai kebutuhan biologis antara lain rasa lapar, haus, seks, pengaturan suhu tubuh, tidur, menghidari rasa sakit, dan kebutuhan a! an oksigen.
Secara biologis, manusia cenderung untuk mengikuti prinsip homeostatis. Menurut Morgan (1986). Homeostatis adalah kecenderungan tubuh kita untuk memelihara kondisi internal. Sel reseptor tubuh kita secara terus menerus akan memonitor tubuh kita. Jika ada ketidakseimbangan dalam tubuh, maka tubuh akan melakukan adaptasi untuk mencapai keadaan yang seimbang kembali. Kebutuhan biologis, misalnya kebutuhan untuk makan, minum, mempertahankan suhu tubuh dan kebutuhan untuk tidur, umumnya menganut prinsip ini. Morgan (1986) memberikan contoh dari kebutuhan biologis seperti di bawah ini:

1.1 Motif Lapar
Kegemukan saat ini menjadi masalah kesehatan di USA karena hampir separuh dari penduduknya kelebihan berat badan dan bahkan seperlimanya sudah tergolong obesitas (Feldman 2003). Banyak intervensi yang mereka lakukan agar anak-anak usia sekolah tidak menjadi kelebihan berat badan. Di Indonesia, khususnya di DKI

1.2 Motif Seksual
Dorongan seksual dipengaruhi oleh hormon estro¬gen pada perempuan dan hormon androgen pada laki-laki. Namun kelenjar adrenalin juga mengatur dorongan seksual pada kedua jenis kelamin ini. Pada binatang perilaku seksual mereka sangat dipengaruhi oleh kadar estrogen dalam tubuhnya. Jika kadar estrogen tubuh meningkat, maka mereka akan mengalami birahi dan berespons terhadap lawan jenisnya. Namun jika kadar estrogen dalam tubuh turun, maka mereka tidak akan tertarik lagi dengan lawan jenisnya.

Pada manusia penelitian tentang hubungan antara birahi dengan kadar estrogran belum dapat dibuktikan. Hal ini disebabkan, karena perbedaan hasil penelitian. Sebagian mengatakan, bahwa birahi muncul pada saat di tengah-tengah siklus menstruasi namun penelitian lain menyimpulkan bahwa birahi ada pada saat setelah menstruasi. Bahkan pada saat menopause, di mana hormon estrogen telah berkurang, tidak terlihat adanya penurunan birahi pada perempuan. Dari hasil penelitian ini, Morgan (1986) mengambil kesimpulan bahwa perilaku seksual manusia tidak dipengaruhi oleh faktor biologis, namun lebih ditentukan oleh faktor eksternal seperti kebiasaan dan sikap.

Pada jenis kelamin laki-laki, baik pada hewan mau¬pun manusia, kadar androgen khususnya testosterone tidak berkorelasi dengan birahi. Artinya jika kadar tes¬tosterone meningkat tidak berarti bahwa birahi semakin meningkat. Tampaknya kadar testosterone tertentu dalam tubuh sudah cukup untuk membangkitkan birahi laki-laki. Namun jika kadar minimal tidak terpenuhi, maka dorongan seksual tidak akan muncul. Dengan demikian, jika laki-laki dikebiri maka dorongan seksualnya akan sangat menurun. Pada laki-laki birahi lebih disebabkan karena adanya sinyal positif dari lawan jenisnya.

2. Motif Sosial
Motif sosial adalah sesuatu dorongan untuk bertindak yang tidak kita pelajari, namun kita-pelajari dalam kelompok sosial di mana kita hidup. Motif sosial ini umumnya kompleks dan menyangkut pada keadaan umum yang mempengaruhi munculnya berbagai perilaku. Kebutuhan sosial ini adalah kebutuhan yang tidak akan terpuaskan, karena jika sudah tercapai tujuannya, maka kebutuhan ini akan mengarahkan perilaku kita pada tujuan yang lain lagi. Jika dalam motif biologis terjadi siklus motivasi yang menganut prinsip homeostatis, maka motif sosial ini tidak akan berbentuk seperti spiral. Terpenuhinya kebutuhan tersebut akan menimbulkan perilaku yang lain lagi. Misalnya seorang remaja laki-laki merokok agar dianggap sebagai anggota kelompoknya (need for affiliation), maka jika is sudah masuk dalam kelompok tersebut kebutuhan akan affiliasi ini akan tetap ada. Ia akan mengarahkan perilakunya untuk selalu mengikuti apa keinginan dari kelompoknya, seperti misalnya mencoba narkoba atau hal-hal lain yang bahkan membahayakan dirinya.

Motif sosial ini mencerminkan pula karakteristik dari seseorang dan merupakan komponen yang penting dari kepribadiannya. Karena motif sosial ini dipelajari, maka kuatnya kebutuhan berbeda dari satu orang kepada orang lainnya. Semua ini tergantung pada pengalaman hidup yang dipelajarinya dan hal ini akan mencerminkan keunikan kepribadian individu.

2. Kuesioner
Salah satu cara untuk mengukur motivasi melalui kuesioner adalah dengan meminta klien untuk mengisi kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang dapat memancing motivasi klien. Sebagai contoh adalah EPPS (Edward's Personal Pre¬ference Schedule). Kuesioner tersebut terdiri dari 210 nomer di mana pada masing-masing nomor terdiri dari dua pertanyaan. Klien diminta untuk memilih salah satu dari kedua pertanyaan tersebut yang lebih mencerminkan dirinya. Dari pengisian kuesioner tersebut kita dapat melihat dari ke¬15 jenis kebutuhan yang ada dalam tes tersebut, kebutuhan mana yang paling dominan dalam diri kita. Contohnya antara lain, kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan akan keteraturan, kebutuhan untuk berafiliasi dengan orang lain. kebutuhan untuk membina hubungan dengan lawan jenis, bahkan kebutuhan untuk bertindak agresif.

3. Observasi Perilaku
Cara lain untuk mengukur motivasi adalah dengan membuat situasi sehingga klien dapat memunculkan perilaku yang mencerminkan motivasinya. Misalnya, untuk mengukur keinginan untuk berprestasi, klien diminta untuk mempro¬duksi origami dengan batas waktu tertentu. Perilaku yang diobservasi adalah, apakah klien menggunakan umpan balik yang diberikan, mengambil keputusan yang berisiko dan mementingkan kualitas daripada kuantitas kerja.

F. MOTIVASI UNTUK BERPERILAKU SEHAT
Mengapa seseorang sulit untuk melakukan perilaku hidup sehat? Jawabannya adalah karena kita tidak pernah menghargai kesehatan hingga saat kita menderita penyakit. Menurut John P Elder (et. al. 1994), untuk berperilaku sehat diperlukan tiga hal yaitu: pengetahuan yang tepat, motivasi, dan ketrampilan untuk berperilaku sehat. Jika seseorang tidak memiliki ketrampilan untuk memunculkan perilaku sehat maka disebut sebagai skill deficits. Untuk meningkatkan perilaku sehat, maka intervensi yang tepat tentu saja adalah dengan memberikan berbagai pelatihan. Namun, jika seseorang memiliki pengetahuan dan ketrampilan namun tidak memiliki motivasi maka disebut sebagai performance deficits. Untuk menimbulkan motivasi maka teknik yang populer digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan modifikasi perilaku dari aliran kaum behavioristik. Pemberian penguat (reinforcement) untuk meningkatkftn perilaku, atau pemberian sanksi atau hukuman untuk menurunkan frekuensi perilaku.

Pada dasarnya tidak ada seorang pun di dunia ini yang ingin menjadi sakit (kecuali mereka yang mengalami gangguan psikologis tertentu), namun mengapa sering kali kita secara sadar melakukan perilaku yang merupakan faktor risiko untuk mendapatkan penyakit? Contoh yang banyak dilakukan orang adalah soal merokok. Mengapa orang tetap merokok walaupun mereka mengetahui bahwa merokok adalah merupakan salah satu faktor risiko terkena penyakit jantung, stroke, kanker paru dan lain-lainnya. Sarafino menjawab sebagai berikut: masalah utama dalam hal ini adalah bahwasanya perilaku tidak sehat lebih menyenangkan daripada perilaku sehat yang harus dilaksanakan. Hal ini menyebabkan timbulnya konflik dalam diri orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, mereka umumnya mengadakan negosiasi dengan memelihara keseimbangan psikologisnya. Misalnya, setelah makan makanan yang enak-enak kemudian ia minum obat kolesterol dengan harapan koles¬terolnya akan turun. Namun banyak pula dari kita yang melakukan keseimbangan psikologis dengan mengatakan nanti setelah umur 40 saya akan berhenti merokok atau berhenti makan enak, namun hal ini tidak pernah dilakukannya hingga ia menderita penyakit degeneratif.

Masalah lain yang menyebabkan seseorang sulit termotivasi untuk berperilaku sehat adalah karena perubahan perilaku dari yang tidak sehat menjadi sehat tidak menimbulkan dampak langsung secara cepat, bahkan mungkin tidak berdampak apa-apa terhadap penyakitnya, namun hanya mencegah agar tidak menjadi lebih buruk lagi. Misalnya, jika kita pernah terserang stroke dan berhenti merokok, maka kita tidak akan merasakan dampaknya secara langsung. Sedangkan menghentikan perilaku yang telah menjadi kebiasaan atau yang sudah kecanduan tidaklah mudah.

Memotivasi orang sehat adalah jauh lebih sulit daripada memotivasi orang sakit. Sebab pada dasarnya, sakit merupakan hal yang selalu ingin kita hindari. Jika kita masih sehat dan diminta untuk melakukan perilaku yang tidak menyenangkan, umumnya tidak akan kita lakukan. Karena pada saat sehat, menghindari penyakit adalah bukan tujuannya. Lebih jauh lagi, faktor lingkungan dapat mempersulit motivasi seseorang untuk berperilaku hidup sehat jika lingkungan keluarganya tidak mendukung perilaku tersebut. Misalnya seorang bapak yang ingin melakukan diet rendah gula, namun istrinya memiliki hobi memasak dan bahkan senang sekali memasak kue-kue. Maka tentu saja situ-asi ini membuat sang suami akan lebih sulit untuk melakukan dietnya.

WAWANCARA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI (MOTIVATIONAL INTERVIEW)
Salah satu teknik konseling yang ditujukan untuk meningkatkan motivasi yang diciptakan oleh Miller dan Rollnick (Sheila Payne dan Sandra Horn, 1997). Metode ini awalnya digunakan untuk mengatasi masalah kecanduan alkohol, namun kemudian dikembangkan untuk perilaku tidak sehat lainnya, seperti misalnya untuk menurunkan berat badan yang sangat berlebihan atau masalah ketidakmampuan lainnya.

Tujuan utama dari interview motivasional ini adalah untuk mendorong individu mengekplorasi dan menemukan alasan yang sebelumnya belum pernah dipikirkan untuk mengubah perilakunya. Sebenarnya dasar dari teknik ini adalah sejalan dengan teori disonansi kognitif dari Festinger. Dalam teori disonansi kognitif ini, ia mengemukakan bahwa jika seseorang melakukan perilaku yang tidak sejalan dengan tindakannya, maka akan terjadi ketidakseimbangan atau disebut sebagai disonansi. Karena pada dasarnya manusia tidak menyukai keadaan tidak seimbang, maka ia berusaha membuat seimbang dengan mencari pengetahuan baru yang sejalan dengan perilakunya atau mengubah perilakunya agar sejalan dengan pengetahuannya. Tugas konselor dalam hal ini adalah memfasilitasi klien dan bukan untuk adu argumen tentang pentingnya mengubah perilaku. 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Fans Page